Jumat, 28 Mei 2010

Biografi Asep Sunandar Sunarya

ASEP SUNANDAR SUNARYA

Jenis kesenian wayang golek memiliki fenomena tersendiri di dalam dunia kesenian. Keberadaannya masih terus dipertahankan agar tetap hidup sebagai salah satu khazanah Budaya Sunda, meskipun pementasannya dewasa ini sudah sangat langka dan terbatas pada tempat serta kesempatan tertentu saja. Bila mendengar nama Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya, maka kita akan langsung dapat mengingat Kesenian Wayang Golek yang merupakan salah satu warisan paling berharga untuk dilestarikan. Nilai-nilai luhung Seni dan Budaya Sunda.

Wayang Golek versi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya cenderung bergaya kontemporer. Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya dilahirkan pada tanggal 3 September 1955 merupakan putera ke-7 dari 13 bersaudara putera-puteri Ki Dalang legendaris Abah Sunarya dengan Ibu Cucun Jubaedah.

Abah Sunarya merupakan pemilik sekaligus pendiri Perkumpulan Seni Wayang Golek Giri Harja. Selain Asep Sunandar Sunarya, anak Abah Sunarya lainnya yang berprofesi sebagai dalang adalah Ade Kosasih Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, Ugan Sunagar Sunarya, Agus Muharam dan Imik Sunarya. Asep Sunandar Sunarya yang memiliki nama kecil Sukana dalam perilaku kesehariannya sejak duduk di bangku SD sudah menampakan sosok pribadi yang kreatif dan dinamis dalam bergaul dengan sesama teman-temannya.

Selesai mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1968, Asep melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa-masa itu konsentrasi belajarnya banyak terganggu oleh hobinya mendalami ilmu pedalangan sampai lulus SMP tahun 1971.

Tekadnya untuk segera bisa mendalang termotivasi oleh ayahnya Abah Sunarya dan kakaknya Ade Kosasih Sunarya serta pamannya Lili Adi Sunarya. Selain itu juga Asep Sunandar Sunarya menimba ilmu pedalangan dengan belajar pada dalang Cecep Supriadi, dalang kondang dari Karawang. Asep Sunandar Sunarya dengan cara bersungguh-sungguh mengikuti Penataran Dalang yang diselenggarakan RRI Bandung pada tahun 1972 dan tercatat sebagai Lulusan Terbaik.

Padepokan Giri Harja pada tahun 1987 diresmikan sebagai Pusat Belajar Seni Pedalangan oleh Menteri Penerangan RI yang pada saat itu dijabat Harmoko. Keberadaan Padepokan Giri Harja sangat berpengaruh terhadap prestasi, kreasi dan motivasi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya sebagai Dalang Wayang Golek Kontemporer.

Pengalaman serta prestasi yang telah diraihnya diantaranya sebagai Juara Dalang Pinilih I Jawa Barat pada Binojakrama Padalangan di Bandung tahun 1978 dan tahun 1982. Sedangkan pada tahun 1985 Asep terpilih menjadi Dalang Juara Umum tingkat Jawa Barat dan memboyong Bokor Kancana. Pengalaman Asep Sunandar Sunarya melakukan muhibah ke luar negeri tercatat pada tahun 1986 sebagai Duta Kesenian ke Amerika Serikat. Tahun 1993 Institut International De La Marionnete di Charleville Prancis meminta Asep Sunandar Sunarya sebagai Dosen Luar Biasa selama 2 bulan serta diberi gelar Profesor oleh Masyarakat Akademis Prancis. Terakhir pada tahun 1994 Asep melakukan pentas keliling negara-negara di kawasan Eropa.

Kehadiran Tokoh Dalang sekaliber Asep Sunandar Sunarya telah memberikan kontribusi bagi seni pedalangan khususnya Wayang Golek sebagai warisan seni dan budaya milik masyarakat Jawa Barat.

Konsep serta kreativitas pertunjukan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya telah memberikan warna dan gaya tersendiri.Gaya pertunjukkan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya merupakan nuansa baru yang muncul di lingkungan Dinasti Sunarya. Hal yang paling menarik dan meruapakan ciri khas Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya ini adalah kepiawaiannya dalam mengolah gerak atau sabetan wayang dengan tampilan humor atau banyolan yang sentimentil, luwes dan segar.

Mengenai pegangannya pada Pakem Wayang dikaitkan dengan kreasinya yang disebut orang kontemporer seperti pada pertunjukkan wayang ketika dipukul kepalanya dapat mengeluarkan darah atau perkelahian antara Si Cepot dengan lawannya sampai “Buta” atau ketika lawannya mengeluarkan “mie”, Kang Asep mengemukakan bahwa hal itu tidaklah keluar dari pakem. Hal ini hanyalah merupakan suatu upaya visualisasi dengan cara memvisualkan cerita dalang-dalang terdahulu.

* Sumber: Cahya Hedy, S.Sen, Asep Sunandar Sunarya Tokoh dan Kreator Pedalangan Sunda, STSI Bandung, 1999.

Mengenal Pandawa Lilima

Mengenal Pandawa Lima

Dalam rangka mengembangkan dan mengenalkan Seni Sastra Padalangan, kami mencoba menyebarluaskan Seni Sastra Padalangan ini yang diawali dengan memperkenalkan tokoh-tokoh Pandawa Lilima dan tokoh-tokoh lain dengan perangai dan karakter yang berbeda. Mari kita coba jelaskan satu per satu:

Prabu Pandu Dewanata

Raden Pandu Dewanata adalah putra Bagawan Abiyasa (Kresna Dipayana) dari Dewi Ambalika. Nama temannya adalah Destarata, nama saudara perempuannya adalah Raden Yamawidura. Pandu memiliki suasana hati yang baik, pejuang yang sangat berani dan kuat. Alhasil, ia diangkat menjadi raja Astina. Dua istri Pandu adalah Dewi Kunti Nalibrata dan Dewi Madrim.

Pandu Dewanata memiliki lima putra yang diberi nama Pandawa Lilima. Putra sulungnya bernama Samiaji biasa dipanggil Darmakusumah, yang kedua Bima atau Bratasena, yang ketiga Arjuna, yang keempat Nakula dan yang bungsu Sadewa. Ketiga putra Dewi Kunti adalah Samiaji, Bima dan Arjuna. Si kembar adalah Nakula dan Sadewa, putra Pandu dari Dewi Madrim. Pandu meninggal dengan sumpah Resi Kumindana. Sebelum meninggal, ia meninggalkan negeri Astina dan keluarganya menuju Destarata.

Dewi Kunti Nalibrata

Dewi Kunti Nalibrata adalah putra raja Kuntiboja dari Negeri Mandura. Dewi Kunti bernama Basudewa. Sebelum menikah Dewi Kunti hamil secara tidak wajar. Di sini Batara Surya yang berdosa mengeluarkan janin dari puting Dewi Kunti. Karena itulah bayinya adalah Karna yang berarti anak kecil. Selama menjadi permaisuri Pandu Dewanata, Dewi Kunti memiliki tiga putra. Yang sulung bernama Darma Kusumah, yang kedua bernama Bratasena, yang termuda bernama Arjuna. Putra lainnya adalah Karna dari Batara Surya.

Darmakusumah

Darmaksumah biasa disebut Puntadewa atau Kontea. Karena dia adalah putra sulung Pandu, dia diangkat menjadi raja Amarta. Saat berada di hutan (hutan) Amer, Kontea bertemu dengan raja Siluman, namanya Darmakusumah. Sejak saat itu, Kontea menggunakan julukan Darmakusumah. Alas Amer menjadi negara Amarta.

Darmakusumah beristrikan Dewi Drupadi, putra Prabu Drupada dari negeri Cempala Dirja. Mereka memiliki seorang putra bernama Raden Pancawala. Prabu Darmakususmah, raja Amarta, adalah rajanya. Dia sabar, percaya, adil, bijak dan mencintai rakyatnya. Selama dia berada di Marcapada, dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Ia juga memiliki azimat Jamus layang kalaimasadha.

Bratasena (Bima)

Bratasena sering disebut Bima, Werkudara, Sena atau Bilawa. Ketika dia lahir, dia masih terbungkus selimut. Soehna paket itu marah besar pada Gajah Sena. Dia kemudian dipanggil Sena. Perawakan Sena tinggi, dengan dada bidang, dan hidung besar.

Jenggot, janggut dan kumis rambosbos bewos dan rambut gimbal. Sifatnya jujur, dia tidak bohong, dia sekencang pancake. Dia berkata bahwa dia takut atau takut akan segalanya. Alhasil, ia dijadikan benteng Amarta. Bratasena memiliki tiga istri. Yang pertama disebut Dewi Badawangwati putra Jakatawan, yang kedua Dewi Nagagini putra Raden Antareja, dan yang terakhir Dewi Arimbi putra Raden gatotkaca.

Arjuna

Arjuna adalah putra tengah Pandu, namun sering disebut Pandawa Tengah. Dia adalah salah satu ksatria pemberani. Wajahnya putih dengan senyum di wajahnya. Karakternya adalah bisa duduk, tajam dan teratur, sopan santun, bahasa yang baik, sopan santun, menghormati orang tua, tunduk pada guru, takut pada Yang Maha Kuasa. Arjuna adalah prajurit yang sangat pemberani. Dikatakan bahwa manusia langit adalah manusia dunia.

Karakternya dipisahkan oleh istrinya dan dicintai oleh keluarganya. Numawi menjadi impian gadis itu, tangkapan Kania. Arjuna memiliki banyak istri. Namun yang sebenarnya hanya Dewi Subadra, putra Prabu Basudewa dari Mandura, dan Dewi Srikandi, putra Prabu Drupada dari negeri Cempala Dirja. Putra dari Dewi Subadra adalah Raden Abimanyu. Arjuna memegang jabatan sebagai Adipati di Madukara.

Nakula Sadewa

Nakula dan Sadewa adalah anak kembar Pandu Dewanata dari Dewi Madrim. Sejak saat itu, anak kembar tersebut diasingkan oleh ibu mereka. Akibatnya, kedua Pandawa dikandung oleh Dewi Kunti bersama Pandawa lainnya. Dalam kisah Pandawa yang menyamar di negeri Wirata, Nakula berganti nama menjadi Pinten, Sadewa menjadi Tangsen. Mereka adalah ksatria kembar yang belajar di bidang pertanian dan merawat hewan, untuk meningkatkan mata pencaharian dan kehidupannya.

Batara Kresna (Bangbang Narayana)

Bangbang Narayana adalah nama Krisna saat masih remaja. Ia adalah putra Prabu Basudewa, raja Mandura. Istrinya adalah Raden Kakasrana atau Prabu Baladewa dan dia memiliki seorang adik perempuan dari Dewi Badraini yang bernama Dewi Subadra atau Dewi Mayang Arum. Prabu Kresna adalah perwujudan Dewa Wisnu, tubuhnya berwarna gelap (hitam), karena itu ia sering disebut Batara Kresna. Ia menjadi Raja di negeri Dwarawati.

Prabu Kresna pandai berbicara, sangat berani. Ia memiliki senjata panah Cakra yang sakti, serta Azimat Kembang Wijayakusumah untuk menyembuhkan orang sakit atau yang meninggal sebelum waktunya. Saat Barata Yudha, Kresna menjadi juru taktik perang Pandawa. Semua musush dapat dikalahkan oleh para Pandawa melalui tipu muslihat Batara Kresna.

Raden Gatotkaca

Gatotkaca adalah putra Bima dari Dewi Arimbi, ratu Pringgandani. Istri Raden Gatotgaca adalah Dewi Pergiwa, anak Raden Arjuna, anak Bangbang Kaca. Ketika kabelnya lahir, tidak bisa diputus, bisa diputus dengan senjata Konta. Arjuna lah yang dapat mematahkannya. Dalam kisah Barata Yudha, Raden Gatotgaca membunuh banyak Korawa. Gatotkaca perlaya karya Konta milik Adipati Karna.

Semar Badranaya

Semar Badranaya adalah salah satu badega yang membela Pandawa. Semar sering disebut Lurah Semar Kudapawana. Mulanya saya terlambat menguning, kemudian Dewa yang memilih berperang, namanya Batara Ismaya atau Sang Hyang Munget, putra Sang Hyang Wenang.

Wujud Semar meniru jenis yang sekarang kita kenal karena membunuh saudaranya Sang Hiyang Rancasan bersama saudaranya yang bernama Sang Hyang Antaga karena memiliki azimat Jamus Layang Kalimasadha. Sedangkan Ki Lurah Semar melahirkan tiga putra, Cepot / Sastrajingga, Udel / Dawala, dan Gareng yang tingkahnya lucu. Ki Semar memiliki istri Dewi Sutiragen.

www.sundanet.com

Kamis, 27 Mei 2010

Sapi Ngencar

Sapi Ngencar


“Geura jung atuh rék digadag mah, lain kalah ka ngalulungkut!”
“Mangké heula, sidik aing téh baruruten kénéh. Abong biwir teu diwengku!”
“Kéjo geus haneut, deungeunna geus diasakan, rék naon deui?”
“Aéh-aéh, na ka salaki téh, mani poporongos kitu?”
“Kaluman wé nénjona. Hudang héés téh lain buru-buru ka tampian. Batur mah geus kamana boa!”
“Kakara ogé jam genep,”

Kawung Ratu

Kawung Ratu


DI SADESA Mandalasari jigana mah ngan kawung Aki nu pangjugrahna teh. Lain si sombong, sanajan dibandingkeun jeung kawung bogana Ki Jumsi ge. Ari kawung Ki Jumsi, enya jugrah, tapilahangna kos nu atah raru, sok haseum bae.
Mokaha da, dina usum kieu, ari kana saratus perak mah sapoena eta kawung teh bisa mere, teu hese-hese. Lakar daek bae ngaropeana.
Ku Aki eta kawung dibere ngaran peringetan ka Kangjeng Dalem Wira Tanu Ningrat. Minangka pangeling-eling ka anjeunna, disebut wae Kawung Ratu.
Riwayatna mah kieu eta teh: Baheula, waktu Aki ge ngora keneh, can jaman merdeka harita teh, eta kawung jeunah keneh, can diropea. Ari carulukna mah geus aya, ngan leungeunna can nongtot.
Harita Aki boga deui kawung tilu, nu jadi di sisi walungan Cilonggan. Nu eta mah geus lila bisa disadapna, ngan teu pati matut.

Minggu, 16 Mei 2010

Sisindiran

Kalayar buah kalayar
Lebet ka cabe mah henteu
Lumayan tambi lumayan
Lebet ka sae mah henteu

Hanggasa bawa ti gunung,
dipipit bawa di rawa
Kasaha nya sumalindung
Nitipkeun raga jeung nyawa

Boboko ragrag ti imah
Ninggang kana pileuiteun
Nya bogoh ulah ka semah
Ari balik sok leungiteun

Leuleupeutan leuleumeungan
Ngarah kekejoanana
Deudeukeutan reureujeungan
ngarah tetenjoanana

Itikurih Bentang Sinar
Maen di lapang Cicendo
Nyeri peurih kunu anyar
matak henteu hayang nenjo

Majar Maneh cengkeh koneng
Kulit Peuteuy dina nyiru
Majar maneh lengkeh koneng
Kulit beuteung mani nambru

Ekspres Bandung - Surabaya,
Digantolan kikinciran,
Neda ma'lum ka sadaya
Abdi bade sisindiran

Pipiti di bungawari
Tetenong dibobokoan
Lalaki jaman kiwari
hade omong pangoloan

Meuleum manggu tengah poe
Dicokelan kayu api
Malem minggu ninggang sue
Diapelan aki-aki

Pileuleuyan cangkang beas
Huut sajeroning kejo
Pileuleuyan urang ikhlas
Imut sajeroning nenjo

Saninten buah saninten
Dibawa ka parapatan
Hapunten abdi hapunten
bilih aya kalepatan

Paribasa Sunda

Paribasa Sunda

Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka batur, tapi boga hate luhur, tungtungna sok ngunghak jeung kurang ajar, temahna batur loba nu teu resepeun.
Adam lali tapel poho ka baraya jeung poho ka lemah cai.
Adat kakurung ku iga adat nu hese digantina.
Adean ku kuda beureum beunghar ku barang titipan atawa ginding ku pakean batur.
Adigung adiguna gede hulu, boga rasa leuwih ti batur, kaciri dina laku lampahna jeung omonganana.
Agul ku payung butut ngagulkeun luluhur sorangan.
Akal koja pinter dina kagorengan atawa kajahatan.
Aki aki tujuh mulud lalaki nu geus kolot pisan.
Aku aku angga ngaku barang batur kalawan ngandung maksud hayang mibanda
ngaku baraya batur anu beunghar atawa jeneng, mamrih kahormatan atawa kauntungan.
Aku panggung darehdeh jeung mere maweh, ngan hanjakal ku ieu aing asa pangpunjulna, pangbeungharna jste.
Alak-alak cumampaka resep jeung hayang dipuji batur, boga rasa pangpunjulna.
Anu handap hayang nyaruaan nu luhur, nu hina hayang nyaruaan nu mulya.
Alak paul tempat anu lain dikieuna, ngeunaan jauhna jeung pisusaheunana.
Alus panggung = alus laur hade ome tegep dedeg pangadegna.
Ambek nyedek tanaga midek ari napsu pohara gedena, ngan masih bisa meper diri
napsu kapegung.
Ambekna sakulit bawang gampang pisan ambek, jeung mun geus ambek teu reureuh sakeudeung.
Anak puputon anak nu kacida didama-damana, nu pohara dipikanyaah.
Anjing ngagogogan kalong mikahayang nu lain lain, nu pamohalan pilaksanaeun (Mikahayang nu moal bakal kasorang).
Ari diarah supana, kudu dipiara catangna Naon bae nu mere hasil ka urang kudu diurus bener bener.
Ari umur tunggang gunung, angen angen pecat sawed ari umur geus kolot tapi hate ngongoraeun keneh.
Asa dijual payu ngungun dumeh nyorangan di panyabaan, jauh ti indung bapa.
Asa ditonjok congcot meunang kabungah nu gede, anu saenyana teu diarep arep.
Asa ditumbu umur Boga rasa kahutangan budi anu pohara gedena.
Asa nanggeuy endog beubeureumna kacida nyaahna.
Asa potong leungeun katuhu leungiteun jalma nu pohara hade galena.
Ati mungkir beungeut nyinghareup palsu, siga sono, tapi henteu. Siga suka, tapi henteu, siga nyaah tapi henteu.
Aub payung, sabet panon sabasoba wewengkon, ngeunaan tanah.
Aya astana sajeungkal anu mustahil oge oge bisa kajadian.
Aya bagja teu daulat arek meunang bagja atawa kauntungan tapi teu tulus.
Aya di sihung maung Kulantaran loba kawawuh gegeden dina aya karerepet atawa kaperluan penting gampang naker meunang pitulungna.
Aya hate kadua leutik naksir.
Aya jalan komo meuntas aya lantaran anu diarep arep ti tadina nepi ka maksud urang gancang kalaksanakeun.
Aya jalan komo meuntas Aya pilantaraneun atawa pijalaneun pikeun ngalaksanakeun atawa ngabulkeun kahayang.
Aya jalan komo meuntas eukeur mah aya maksud, turug turug aya pilantaraneun.
Aya peurah aya komara aya harega, aya pangaji.
Ayakan tara meunang kancra nu bodo jeung nu pinter moal sarua darajatna jeung panghasilanana.
Baleg tampele ari rasa tresna ka lalaki geus aya, ngan lamun papanggih jeung jelemana gede keneh kaera.
Bali geusan ngajadi tempat dilahirkeun.
Balung kulit kotok meuting teu eureun eureun nyeri hate ti baheula nepi ka kiwari.
Balungbang timur, caang bulan opat belas, jalan gede sasapuan beak karep ku rido jeung beresih hate.
Banda tatalang raga lamun urang papanggih jeung karerepet, gering upaman, euweuh halangan urang ngajual barang nu aya pikeun ngabela diri, meuli ubar sangkan waras.
Belang bayah gindi pikir boga pikiran goreng ka papada kawula.
Bengkung ngariung bongkok ngaronyok babarengan sok sanajan dina hina, rugi, atawa cilaka.
Beurat birit hese jeung sungkan dititah.
Beurat nyuhun beurat nanggung, beurat narimakeunana pohara narimakeunana kana pitulung, ngan teu kawasa ngedalkeun ku lisan atawa tulisan, anging gusti nu ningali.
Beureum paneureuy seuseut batan neureuy keueus hese pisan, seuseut seuat ngahasilkeun maksud.
Beuteung anjingeun ngeunaan ka jelema nu beuteungna cara/siga beuteung anjing.
Bilih aya turus bengkung Bisi salah pokpokanana.
Biwir nyiru rombengeun resep mukakeun rasiah sorangan atawa rasiah batur.
Biwir nyiru rombengeun Resep ngucah ngaceh rasiah atawa kaaeban boh nu sorangan boh nu batur.
Biwir sambung lemek, suku sambung lengkah henteu milu milu kana tanggung ajwabna mah, ieu mah ngan saukur mangnepikeun dumeh jadi utusan, ngemban timbalan tinu lian.
Bluk nyuuh blak nangkarak Kabina bina rajina dina enggoning nyiar kipayah.
Bobo sapanon carang sapakan aya kuciwana, lantaran aya kakuranganana atawa karuksakanana.
Bobor karahayuan henteu rahayu, henteu salamet, meunang kacilakaan atawa tiwas.
Bonteng ngalawan kadu nu leutik ngalawan nu gede.
Buburuh nyatu diupah beas nyiar pangarti tur diburuhan atawa digajih.
Budi santri, legeg lebe, ari lampah euwah euwah Ari laku lampah mah kawas santri tapi sok ceceremed.
Buluan belut, jangjangan oray pamohalan kajadian.
Bungbulang tunda / tunda talatah lamun dititah tara sok pek ku maneh, tapi sok nitah deui ka batur.
Buntut kasiran koret, medit, ngeupeul, tara pisan daek barangbere.
Bur beureum bur hideung, hurung nagtung siang leumpang ginding, loba pakean anu aralus dipake.
Buruk buruk papan jati ka sobat atawa ka baraya mah sok hayang ngahampura bae lamun aya kasalahan teh.
Caang bulan dadamaran migawe nu kurang mangpaat.
Cacag nangkaeun Hanteu beres, hanteu rata, henteu sampurna.
Cangkir emas eusi delan omonganana mah alus nepi ka urang jadi percaya jeung kataji, tapi hatena jahat jeung matak bahaya ka urang.
Cara bueuk meunang mabuk ngeluk bae, teu lemek teu carek, euweuh hojah, euweuh karep, euweuh kahayang sabab era tawa sieun.
Cara gaang katincak anu tadina rame kacida, ayeuna mah jadi jempling pisan.
Cara jogjog mondok carekcok bae, mani gandeng nacer.
Cara simeut hiris, tai kana beuheung beuheung Pohara bodona, beunang dibobodo atawa ditipu ku batur.
Cecendet mande kiara Nu leutik nyaruaan anu gede, nu miskin nyaruaan nu beunghar.
Ceuli lentaheun Sok gancang nyaritakeun ka batur naon bae anu kadenge, turtaning tacan karuhan eta beja teh bener henteuna.
Cicing dina sihung maung Nganjrek di jelema anu nyusahkeun atawa bakal nyilakakeun ka diri urang.
Cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok Ku dileukeunan mah sakumaha hesena ge lila lila jadi bisa (najan bodo asal leukeun diajarna lila lila oge tangtu bisa).
Cileuncang mande sagara, cecendet mande kiara, hunyur nandean gunung Nyaruaan ka jelema anu saluhureun harkatna, darajatna atawa pangabogana.
Ciri sabumi cara sadesa beda tempatna, beda deui adat jeung kabiasaanana.
Clik putih clak herang Kaluar tian hate anu beresih, rido pisan, teu aya geuneuk maleukmeuk.
Congo congo ku amis, mun rek mais oge puhuna Kumaha arek bageurna dinu ajdi anak, lamun bapana henteu bageur.
Daek macok embung dipacok daek ngarah kana rejeki atawa pakaya batur, tapi diarah rejekina atawa pakayana ku batur mah embung.
Dagang oncom rancatan emas ari modalna gede kacida, ngan batina anu diarah kacida leutikna.
Dah bawang dah kapas tah barangna tah duitna.
Daluang katinggang mangsi Susuganan katuliskeun aya jodo (waris).
Deugdeug tanjeuran pada ngadeugdeug pada nongton, jadi tongtonan kulantaran pinter dina kasenian.
Deukeut deukeut anak taleus ari imahna mah puguh padeukeut, ngan hanjakal teu nyaho tibareto yen baraya.
Dihin pinasti, anyar pinanggih baheula ditangtukeunana, ngan kakara ayeuna kalakonanana atawa kapanggihna.
Dikungkung teu diawur, dicangcang teu diparaban Ari dipegat mah teu acan, ngan geus teu dipeutingan jeung teu dibalanjaan.
Dipiamis buah gintung Disangka hade jeung bageur tapi buktina goreng jeung jahat.
Dipiamis buah gintung disangka hade jeung bageur, tapi buktina goreng jeung jahat.
Disakompet daunkeun, dihurun suluh dihijikeun bae, disaruakeun bae, teu dibeda beda.
Ditangtang ditengteng dijieun bonteng sapasi Dialak ilik lantaran dianggap aneh.
Ditilik ti gigir lenggik, disawang ti tukang lenjang, diteuteup ti hareup sieup lenjang jeung geulis pisan, pantes kewes.
Dogdog pangrewong bantuan anu euweuh hartina, dina teu aya oge teu naon naon.
Dogong dogong tulak cau, geus gede dituar batur ngantian jeung mahugi parawan ti keur leutik keneh, sugan diparengkeun ku nu kawasa jadi pipamajikaneun, na ari geus gede dikawin batur, atuh hese cape taya gawe.
Dosa salaput hulu kacida loba dosana.
Dulang tinande awewe mah nurutkeun bae, kumaha diaturna jeung diparentahna ku nu jadi salami.
Duum tinggi ngabagikeun naon naon henteu kalawan adil aya nu loba, aya nu saeutik.
Elmu ajug pinter ari mapatahan batur mah, tapi prak ku sorangan henteu.
Elmu sapi samiuk (ngahiji) kana kagorengan.
Elmu tumbila nu boga imah ngarugikeun ka tatamu.
Elok bangkong nuju sakarat, ngan kari tunggu dawuh bae.
Endog sapatarangan, peupeus hiji, peupeus kabeh kasusah atawa karerepet anu tumiba ka dulur, baraya atawa sobat, balukarna ngabingungkeun atawa nyusahkeun ka sarerea.
Endog tara megar kabeh najan saindung sabapa hneteu sarua milikna, rejekina atawa darajatna.
Galehgeh gado darehdeh tapi henteu terus kana hate.
Gancang pincang kulantaran digawena buru buru jeung kurang ati ati hasilna teh teu nyugemakeun.
Gantung denge hanteu terus bisa ngadengekeun hiji perkara jeung pohara hayangna neruskeun ngadengekeun.
Gantung teureuyeun Hanteu terus daharna sabab dahareunana geus beak atawa daharna kapaksa kudu eureun heula ku lantaran aya dahareun nu didagoan.
Gede gede kayu randu, dipakeke pamikul bengkung, dipake lincar sok anggang, dipake pancir ngajedig Ngeunaan ka jelema anu jangkung ahrelung tur dedeg ngan hanjakal gawena jeung karajinanana goreng.
Gede gunung pananggeuhan Adigung kulanatran boga kolot atawa baraya baleunghar ataw jareneng.
Gede gunung pananggeuhan Boga ahli atawa kawawuhan anu beunghar atawa jadi gegeden, dina urang aya karerepet atawa butuh ku pitulung, eta jalma bisa nulungan ka urang ku kabeungharan atawa kakawasaan.
Getas harupateun, pingges harepan Gampang pisan nyalahkeun atawa ngahukum ka batur.
Geulis sisi, laur gunung, sonagar huma Ari rupa mah tegep ngan dangong dusun meledug.
Gindi pikir belang bayah Goreng hate, dolim, julig , dengki.
Ginding kakampis Ari pake mah ginding ngan duit teu boga.
Giri lungsi tanpa hina Nu luhur jeung nu handap sarua bae ulah dihina.
Goong saba karia Datang sorangan ka anu keur kariaan sanajan hanteu di ondang, maksudna hayang dititah gawe sangkan seubeuh baranghakan.
Gunung tanpa tutugan, sagara tanpa tepi Euweuh anggeusna, euweuh beakna.
Gurat batu Pageuh kana jangji.
Gusti Alloh tara nanggeuy dibongkokna Gusti Alloh tara nangtayungan ka mahlukna anu salah atawa boga dosa ka papada kawula.
Hade gogog hade tagog Hade basa jeung hade tingkah lacuna.
Hade ku omong goreng ku omong Omongan nu hade balukarna hade jeung omongan nu goreng, goreng deui balukarna.
Halodo sataun lantis ku hujan sapoe Kahadean anu sakitu gedena tur lilana leungit pisan ku kagorengan atawa kasalahan sapoe.
Hambur bacot murah congcot Goreng sungutna jeung sok mindeng nyarekan deuih tapi berehan sok daek barangbere dahareun.
Hampang birit gampang jeung daekan dititah.
Hanteu gedag bulu salambar Hanteu sieun atawa gimir saeutik eutik acan.
Hapa hapa ge ranggeuyan Enya ari miskin tea mah, ngan lumayan da ari salaki mah boga.
Hapa hapa ge ranggeuyan Miskin miskin oge da boga salaki nu ngurus jeung nangtayungan.
Harewos bojong Harewos anu cukup tarikna, nepi kadenge ku jelema anu deukeut kalawan tetela pisan.
Haripeut ku teuteureuyeun Gancang atoh dina meunangna rejeki, boh dahareun boh duit kalawan teu ngingetkeun balukarna ieu teh rejeki halal atawa haram.
Harus omong batan goong Beja teh sasarina sok gampang jeung gancang nerekab, kulantaran umuna sok pabeja beja.
Hayang untung jadi buntung teu papanggih ari jeung kauntungan mah, papanggih soteh jeung karugian anu sama sakali henteu diarep arep.
Hejo tihang Resep jeung remen gunta ganti imah tempat atawa pagawean.
Herang caina beunang laukna Maksud bisa kahontal kalawan beres teu aya pihak anu dirugikeun atawa dinyenyeri.
Herang caina beunang laukna Nu dipikahayang bisa laksana tur teu nganyenyeri batur.
Herang herang kari mata, teuas teuas kari bincurang Bareto mah beunghar ayeuna kari miskina.
Heueuh heueuh bueuk Nyatujuan ari diluar mah, ngan bae henteu terus jeung hatena.
Heurin ku letah Hayang jeung perlu ngabejakeun hiji perkara, ngan sieun pok kulantaran loba karisi/ karempan.
Hirup ku panyukup gede ku pamere Hirup samahi mahi ku pamere batur bae, sabab teu purun hojah sorangan dina enggoning nyiar kipayah.
Hirup nuhun paeh dirampes Rido pisan pasrah pisan, teu boga kahayang naon naon.
Hirup ulah manggih tungtung, paeh ulah manggih beja Kudu bageur kudu hade laku lampah supaya alus kacaritakeunana.
Hulu dugul dihihidan Nu keur senang tambang senang, nu keur untung tambah untung.
Hunyur nandean gunung Nyaruaan ka jelema saluhureun harkatna atawa pangabogana.
Hurung nangtung siang leumpang Ginding karana make papakean atawa perhiasan anu aralus.
Ieu aing uyah kidul Boga rasa pangleuwihna ti pada batur, boh ngeunaan rupa, pangarti, pangaboga, pangkat atawa kakawasaan.
Ilang along margahina, katinggang pangpung dilebok maung, rambutna salambar, getihna satetes, ambekanana sadami, agamana darigamana, kaula nyerenkeun Masrahkeun sagalagalana hadena gorengna, bagja cilakana (biasana sok dipake dina seserahan).
Indung lembu bapa banteng Ti indung jeung bapa turunan menak jeung beunghar.
Inggis batan maut hinis Pohara risina, pohara paurna.
Inggis manan maut hinis, rempan batan mesat gobang Inggis jeung paur kabina bina.
Ipis kulit beungeut Gede kaera.
Iwak nangtang sujen Wani nyorang picilakaeun, pibalaieun atawa pibahayaeun.
Jabung tumalapung sabda tumapalang milu nyaritakeun hiji perkara sakapeung nempasan omongan batur, nyeta nyeta siga nu nyaho, padahal teu nyaho nanaon.
Jadi maung malang jadi panghalang, ngeunaan ka lalaki nu ngahalangan pijodoeun hiji awewe.
Jadi sabiwir hiji jadi carita jalma loba.
Jadi senen kalemekan mindeng dicaritakeun batur.
Jaman cacing dua saduit jaman baheula pisan.
Jati kasilih ku junti pribumi kaeehkeun ku urang asing.
Jauh jauh panjang gagang hanas jauh jauh oge dijugjug, ngan hanjakal ku teu hasil.
Jauh ka bedug anggang ka dayeuh dusun, teu nyaho di tata-titi, tidak tanduk, suba sita, duduga jeung peryoga.
Jauh ka bedug dusun,bodo, euweuh kanyaho.
Jawadah tutung biritna, sacarana sacarana unggal bangsa beda adat jeung kabiasaanana.
Jegjeg ceker cape kulantaran leumpang ka dieu ka dieu.
Jejer pasar lumrah bae, mun ka lalaki, kasep henteu, goreng henteu.
Jeung leweh mah mending waleh leuwih hade wakca balaka ngedalkeun kahayang ti batan ngandung kabingung teu wani pok nyarita.
Jogjog neureuy buah loa mikarep ka anu lain babad.
Jogjog neureuy buah loa Milampah anu moal pihasileun.
Ka luhur teu sirungan kahandap teu akaran Jelema nu jahat, julig jeung dengki mah moal jamuga, moal aya kamajuan boh ngeunaan pangkat, boh rejeki.
Kaceluk ka awun-awun kawentar ka janapria, kakoncara ka mancanagara Kawentar pisan, kawentar kamana mana.
Kaciwit kulit kabawa daging Kababawa, katarik kana hiji perkara, keukeuh milu susah, sanajan teu boga salah jeung henteu milu ulubiung perkarana.
Kahieuman bangkong Ku ayana barang titipan di urang, urang teh nepi ka jiga beunghar katenjona ku batur mah padahal miskin teu boga nanaon.
Kai teu kalis ku angin Unggal jelema awal ahir tangtu bakal pinanggih jeung kasusahan.
Kajeun pait tungtung amis manan amis tungtung pait Tibatan ahirna matak susah, leuwih hade dicaritakeun ti heula naon anu matak pisusaheunana.
Kajeun panas tonggong asal tiis beuteung Kajeun teuing cape gawe asal bisa dahar kalawan cukup.
Kalapa bijil ti cungap Ngucah ngaceh rasiah sorangan anu matak cilaka.
Kandel kulit beungeut euweuh caerá.
Katempuhan buntut maung Batur anu salahna atawa anu boga dosana, tapi urang anu kudu nyanghareupan balukarna.
Katumbukan catur kadatangan carita Loba anu embung sabab ngagedekeun jeung ngagugulukeun panyerewedan.
Kawas anjing kadempet lincar Mere parentah ka batur teu kalawan sabar, malah bari ambek ambekan sagala.
Kawas budak rodek hulu Teu ngupama, teu ngajenan, teu ngahargaan pisan.
Kawas cucurut kaibunan Ngeunaan ka jelema anu matak sareukseuk panon.
Kawas hayam keur endogan cilingcingcat bae, teu bisa cicing.
Kawas hayam panyambungan Tacan nyaho di kaler kidul, kawantu anyar keneh aya di eta tempat.
Kawas kacang ninggang kajang Ngomongna tarik tur gancang, biasana ngeunaan ka awewe nu keur ngambek bari nyarekan.
Kawas kuda leupas ti gedogan Bingung ku kamerdekaan, terus sakama-kama nganteur kahayang, ngalajur napsu, kulantaran euweuh anu ngageuing atawa euweuh nu nyengker.
Kawas lauk asup kana bubu Gampang asupna kana pagawean tapi pohara hesena hayang kaluar ninggalkeun eta pagawean.
Kawas lauk asup kana bubu gampang meunangna jeung asup kana hiji pagawean, tapi hese kaluarna jeung negcagkeunana eta pagawean (masalah).
Kawas nu mulangkeun panyiraman Sok nu lain lain, jeung hese ngayakeunana nu dipikayang ku jelema nu tereh ajal, kahayangna sabisabisa kudu dicumponan bae, sanajan matak ngarepotkeun ka ahlina/ kulawargana.
Kawas siraru jadi Pabaliut ku tina lobana, ngeunaan ka jelema.
Kawas wayang pangsisina Ngeunaan jelema nu goreng rupana.
Kejo asak angeun datang Sapagodos jeung maksud urang, atuh teu talangke deui harita keneh dilaksanakeun.
Keur meujeuhna bilatung dulang Laleutik keneh pisan keur meujeuhna bareuki dahar.
Keur meujeuhna hejo lembok rambay carita Keur meujeuhna loba pakaya jeung loba rejeki.
Keur nuju bentang surem keur sue,atawa tiis badan, lamun guna tani ku hama, lamun dagang terusterusan rugi bae.
Kiceupna sabedug sakali Pohara lungguhna.
Kiruh ti girang kiruh ka hilir Lamun anu di luhruna teu balageur jeung teu balener, tangtu nu dihandapna oge milu teu bener milu teu bageur.
Kokoro manggih mulud puasa manggih lebaran Anu saumur -umur miskin tuluy dina hiji waktu pinanggih jeung kamulyaan atawa rejeki anu gede, sasarina sok kacemekanana nepi ka siga mangpang meungpeung.
Kokoro nyoso, malarat rosa, lebaran teu meuncit hayam Kacida miskina.
Kotok bongkok kumorolong, kacingcalang kumarantang = Lauk buruk milu mijah = Piritan milu endogan Pipilueun kana hiji kalakuan kulantaran kabawakeun ku batur, henteu kalawan kahayang sorangan, nepi ka goreng katenjona.
Kudu bisa ngeureut neundeun Kudu bisa nyukupkeun rejeki atawa pangala anu saeutik.
Kudu boga pikir kadua leutik Ulah sabongbrong teuing, kudu aya pikir rangkepan, kudu aya rasa curiga.
Kujang dua pangadekna Hiji pagawean anu ngandung dua rupa maksud.
Kulak canggeum bagja awak Milik hade atawa goreng anu geus ditangtukeun ti ajalina keneh ku Gusti Nu Maha Suci.
Kumaha bule hideungna bae Kumaha engke bae buktina, kumaha behna.
Kumaha kejebur caina geletuk batuna kumaha jadina bae, henteu jadi pikiran.
Kunang kunang nerus bumi Ramana geus teu jeneng deui, di putrana awal ahir aya nu jeneng cara ramana.
Kuru cileuh kentel peujit Daek tirakat, ngadoakeun budak sangkan sangkan junun.
Kurung batok teu resep nyanyabaan, ni’mat cicing diimah bae.
Lain ku tulang munding kabeureuyan mah, ku cucuk peda arek cilaka mah ku kasalahan anu leutik oge bisa, teu kudu ku kasalahan anu gede bae.
Lain lantung tambuh laku, lain lentang tanpa beja lain leumpang maladra Indit ti imah kalawan ngandung maksud anu tangtu, lain lapmah sakaparan paran henteu puguh anu dijugjug.
Landung kandungan laer aisan Gede timbanganana, gede pangampurana.
Langsung saur bahe carek Sok gampang ngagelendeng atawa nyarekan.
Lauk buruk milu mijah = piritan milu endogan pipilueun kana hiji kalakuan ku lantaran kabawakeun ku batur, henteu kalawan kahayang sorangan, nepi ka goreng katenjona.
Legok tapak genteng kadek Loba luangna pangalamanana jeung kanyahona.
Leubeut buah hejo daun Keur meujeuhna loba rejeki, loba pakaya.
Leuleus jeujeur liat tali pohara adilna, dina mutus hiji perkara tara beurat sabeulah, jeung loba pertimbanganana.
Leunggeuh cau beuleum Teu lutreuk dina ngajalankeun hiji pagawean.
Leutik burih euweuh kawani.
Leutik cahak, gede cohok Ari panghasilan saeutik tapi ari pangaluaran mah gede.
Leutik leutik ngagalatik Sanajan leutik awakna henteu jangkung tur gede, tapi leber ku wawanen.
Leutik ringkang gede bugang Jelema mah teu beunang disapirakeun sabab sanajan leutik warugana, dina aya papaitna atawa bobor karahayuan mah bisa jadi kasusah sarerea.
Leuwi jero beunang diteuleuman, hate jelema najan deet teu kakobet Hade gorengna pikiran jelema hese dikira kirana.
Lieuk euweuh ragap taya Teuing ku miskin nepi ka teu boga naon naon.
Loba teuing jaksa loba teuing anu pinter nu ngatur jeung mapatahan, balukarna matak bingung nu dipapatahan.
Lodong kosong ngelentrung Kalah ka loba omong bae, ari pangartina mah euweuh.
Luhur kuta gede dunya Gagah tur beunghar taya kakurang.
Luncat mulang Teu beunang dicekelan omonganana, ayeuna kieu engke mah kitu.
Lungguh tutut Katenjona siga lungguh tapi saenyana mah henteu.
Malengpeng pakel ku munding, ngajul bulan ku asiwung Ngajalankeun (mikarep) hiji perkara anu taya pihasileunana.
Maliding sanak Henteu adil, pilih kasih.
Mangpengkeun kuya ka leuwi Nitah mulang ka lemburna, atawa nitah pindah ka tempat bali geusan ngajadi.
Mapay ka puhu leungeun Mamawa ka kolot atawa ka guru, turtaning kolot atawa guru mah teu nyaho naon naon jeung euweuh patalina saeutik eutik acan.
Marebutkeun paisan kosong Marebutkeun hiji perkara anu teu aya hasilna atawa mangpaatna.
Maut nyere ka congona Keur ngora senang, tapi ari ka kolotnakeun susah.
Melengkung bekas inhalan Ari keur ngora keneh bageur tapi kakolotnakeun jadi teu bageur.
Mere langgir kalieun Mere naon naon anu bisa jadi aya pisusaheunana atawa pibahlaeunana.
Meuli teri meunang japuh = nyair hurang meunang kancra kalawan teu disangka sangka meunang milik, darajat atawa kauntungan anu leuwih gede.
Meungpeun carang ku ayakan Nyaho yen batur teh salah atawa migawe anu dilarang ku Nagara, tapi teu kitu kieu kalahka api api teu nyaho.
Meungpeung teugeu harianeun Embung pisan tutulung ka batur nu keur susah atawa loba kabutuh.
Miceun batok meunang coet Miceun nu goreng kulantaran hayang meunang anu alus, tapi tungtungna meunang nu goreng deui bae.
Mindingan beungeut ku saweuy ari hate goreng, ngan budi parangi marahmay, perluna pikeun mindingan hate nu goreng tea maksudna supaya ulah kaciri tea.
Mipit teu amit ngala teu menta Maling boga batur.
Miyuni hayam kabiri Leutik burih babari sumerah eleh atawa lalaki nu babari sumerah ka awewe.
Moal ceurik menta eusi Keun bae mawa wadah anu gede oge da lain hayang loba diberena.
Moal neangan jurig teu kadeuleu arek nyekel jelema nu aya bae, moal neangan jelema nu euweuh.
Mobok manggih gorowong Aya lantaran pikeun ngalaksanakeun kahayang anu henteu gampang pihasileun.
Mobok manggih gorowong meunang jalan pikeun ngalaksanakeun kahayang.
Monyet kapalingan jagong Tukang maling kapalingan, tukang tipu katipu, tukang ngarah nagrinah karoroncodan.
Mopo memeh nanggung Hoream, teu sanggup samemeh prak.
Mun teu ngakal moal ngakeul mun teu usaha moal pinanggih jeung rejeki pibekeleun hirup.
Ngajul bulan ku asiwung, mesek kalapa ku jara usaha anu mubadir, moal ngadatangkeun hasil (asiwung; kapas nu geus diberesihan sikina, biasana dipake keur mayit nutupan liang-liangan).
Ngadu angklung di pasar papaduan nguruskeun nu euweuh mangpaatna di hareupeun jalma loba.
Ngadu ngadu rajawisuna mawakeun omongan si a ka si b jeung sabalikna, temahna si a jeung si b pasea, parerea omong.
Mun teu ngoprek, moal nyapek. Mun teu ngakal moal ngakeul. Mun teu ngarah moal ngarih Lamun teu digawe niar kipayah tangtu pisusaheun pikeun hirup.
Muncang labuh ka puhu, kebo mulih pakandangan Mulang ka lemburna sabada mang taun taun aya di pangumbaraan/ panyabaan.
Mupugkeun tai kanjut Ngetrukeun pangaboga dina waktuna nyunatan atawa ngawinkeun anak anu kacida dipikameumeutna.
Naheun bubu pahareup hareup dina pangabutuh silih injeuman duit.
Nangkeup mawa eunyeuh mawa cilaka ka jelema anu dipentaan tulung jeung geus nulungan ka urang.
Nangtung kariung ngadeg karageman Ngariung rarageman ngabadamikeun hiji perkara.
Nepak cai malar ceret Ngomongkeun jeung ngagogoreng batur, supaya batur teh ragrag ngarana jeung kawentar kagorenganana.
Nepakeun jurig pateuh Puguh urang nu goreng tapi kagorengan urang teh ditamplokeun ka batur sangkan urang sorangan salamet.
Nete porot ngeumbing lesot Cukup ari ihtiar mah kalawan mangrupa rupa akal tarekah tapi teu hasil bae.
Nete semplek nincak semplak Kieu salah kitu salah.
Nete semplek nincak semplak Ninggang dina salah jeung rugi bae, turug turug kasusah nambahan deuih.
Nete taraje, nincak hambalan Kudu merenah, lamun aya uruskeuneun teh urang kudu datang ka nu handap heula, kakara terus kaluhur.
Neukteuk curuk dina pingping Ngadakwakeun nu lian, tapi nu ngadakwakeunana meula susah, sabab milu katarik kana perkara, milu adu hareupan jeung hakim.
Neukteuk mani anggeus, rokrok pondokeun peunggas harupateun Heuras hatena teu sabar dina nyanghareupan rupa rupa kasusahan jeung babari luluasan.
Neundeun piheuleut nunda picela Neangan pilantaraneun supaya jadi goreng supaya temahna papisahan teu ngahiji deui.
Ngabudi ucing teu wani nembongkeun atawa ngedalkeun kahayang atawa kadeudeuh.
Ngadagoan kuah beukah Ngadagoan pasesaan kadaharan (Hal ieu ngan wungkul tukang babantu di imah batur bae, anu saenyana mah ayana tukang babantu teh henteu perlu).
Ngadagoan uncal mabal Ngadagoan jeung mikahayang kana rejeki tapi sungkan ihtiar pikeun ngadatangkeun eta rejeki.
Ngadaweung ngabangbang areuy pohara nineungna kana jaman nu geus kasorang nepi ka matak waas pacampur jeung sedih.
Ngadek sacekna, nilas saplasna Ngomong/nyarita anu teu dileuwihan atawa dikurangan.
Ngadeupaan lincar ngadeukeutan anu keur sidekah atawa kariaan, supaya katenjo ku anu boga imah jeung diajak dahar.
Ngagandong kejo susah nyatu loba ari titaheun mah boh anak boh bujang ngan hanjakal ku hese nitah, euweuh nu daekeun ari dititah teh.
Ngagedag bari mulungan Nanyakeun hiji perkara ka batur anu urang tacan nyaho, tapi embung kanyahoan yen urang tacan nyaho, kulantaran kitu api api geus nyaho bae.
Ngaliarkeun taleus ateul ngabeja bejakeun kagorengan atawa kajahatan batur.
Ngaliarkeun taleus ateul Ngabeja bejakeun kagorengan batur atawa kajahatan anu lian.
Ngarep ngarep bentang ragrag Ngarep-ngarep nu pamohalan bakal kasorang atawa kajadian.
Ngarep ngarep kalangkang heulang Ngarep ngarep hiji perkara anu kacida banggana jeung sudah pihasileunana.
Ngawur kasintu, nyieuhkeun hayam ngaraeh jeung darehdeh ka deungeun, sabab hayang kapuji, tapi teu nolih jeung nyapirakeun ka dulur atawa ka baraya sorangan.
Ngeplek jawer, ngandar jangjang, miyuni hayam kabiri Leutik burih, borangan, sieunan, kecing.
Ngeupeul ngahuapan maneh Lungas lengis mikawelas mikaasih ka diri sorangan, supaya batur welaseun jeung nulungan ka urang.
Nginjing sila, bengkok sembah goreng hate, teu satia ka anu jadi pamingpin atawa dunungan.
Ngodok liang buntu hese cape taya gawe, susah payah taya guna sanajan tihothat oge moal atawa henteu beubeunangan.
Ngodok liang jero Teu hasil enggoning nyiar rejeki, kaditu kadieu luput bae.
Ngukur ka kujur nimbang ka awak Ngaluarkeun duit pikeun kaperluan hirup, pakan, pake jste disaluyukeun jeung pangala.
Ngukut kuda kuru ari geus gede sok nyepak Ngukut bujang anu tadina pohara balangsakna, susak dahar susah make, tapi ari geus mulya awak lintuh jeung pake hade, ngalawan ka anu jadi dunungan.
Ngusap birit bari indit kulantaran ambek nyedek atawa era paraa, leos bae indit, teu amit heula ka anu araya didinya.
Nimu luang tinu burang Nambahan luang atawa pangarti waktu keur pinanggih jeung kacilakaan atawa hukuman.
Nincak parahu dua Ngadunungan ka duaan atawa boga dua pausahaan.
Ninggang kana kekecrekna Keur mah goreng rupana, goreng laku lampahna deuih.
Nini nini dikeningan, awewe randa dihiasan Ngamahalkeun barang naon bae anu geus ruksak.
Noong ka kolong Leutik hate, leutik pangharepan.
Nu asih dipulang sengit, nu haat dipulang moha nu hade jeung loba jasana ka diri urang, dinyenyeri ku urang, ku omongan atawa ku kalakuan anu goreng.
Nu borok dirorojok = nu titeuleum disimbeuhan nu keur susah ditambah kasusahanana, nu keur nyeri ditambah kanyerina.
Nu borok dirorojok, nu titeuleum disimbeuhan Nu keur susah ditambah deui kasusahna.
Nu burung diangklungan, nu edan dikendangan ngahaminan omongan atawa carita batur, sanajan ceuk hate sorangan eta omongan atawa carita teh salah.
Nu tani kari daki, nu dagang kari hutang Nu tani jeung nu dagang sarua ripuhna, euweuh nu mulya.
Nuju hirup ninggang wirahma Ngeunaan ka jelema anu keur alus milik.
Nulungan anjing kadempet nulungan jelema nu teu boga pisan rasa tumarima.
Nya di hurang nya dikeuyeup Di unggal jelema oge taya bedana, sarua bae, mungguhing wiwirang atawa katugenah hate mah boh di menak boh disomah sarua bae.
Nya ngagogog nya mantog Nya nitah ka batur nya prak kumanehna.
Nya picung nya hulu maung Nu nanya jeung nu ngajawab teu sapagodos, pananya jeung jawaban pasalia, henteu nyambung.
Nyaeuran gunung ku taneuh, sagara ku uyah nambahan kauntungan atawa kakayaan ka anu geus beunghar.
Nyair hurang meunang kancra Sugan the rek meunang kauntungan, kamuliaan atawa bagja anu leutik manahoreng meunang kauntungan atawa bagja anu gede.
Nyaliksik ka buuk leutik Nyusahkeun, peperedih atawa pepentaan ka jelema anu sahandapeun darajatna jeung pangabogana.
Nyalindung ka gelung Milu hirup ka pamajikan anu loba pakayana.
Nyanggakeun suku genteng belokeun, beuheung teukteukeun, disiksik dikunyit kunyit, dicacag diwalang walang Sumerah, masrahkeun diri rek dibeureum rek dihideung kari kumaha didinya bae, dina rumasa geus salah atawa rumasa boga dosa.
Nyanghulu ka jarian Ngawula ka jelema anu sahandapeun harkatna atawa pangartina.
Nyeri beuheung sosonggeteun Pohara ngarep ngarepna, tapi anu diarep arep teu jol bae datang.
Nyeungeut damar di suhunan mintonkeun kakayaan, atawa barangbere supaya dipuji.
Nyeungseurikeun upih ragrag Akey akeyan nyeungseurikeun batur, dumeh buuk geus bodas huntu geus ompong, tonggong geus bengkung turtaning ieu the kahareup mah ku urang sarerea bakal kasorang.
Nyiar batuk piaraheun Nyiar pigujrudeun, pipaseaeun.
Nyicikeun cai, murulukeun lebu turun cadu (cacaduan), pantang ngalampahkeun hiji perkara anu dilarang ku luluhur.
Nyieun catur taya dapur nganggit hiji dongeng nu teu aya galurna.
Nyieun heuleur jeroeun huma Henteu raket jeung dulur pahare-hare bae.
Nyieun pucuk ti girang pangheulana neangan piaseaeun.
Nyiruan mah teu resepeun nyeuseup nu pait Lumrahna manusa teu resep reureujeungan jeung nu teu boga.
Nyiuk cai ku ayakan Pagawean nu mubadir, moal ngahasilkeun naon naon.
Nyium bari ngegel Omongannana hade ngan hate jeung maksudna goreng . Salakina dipisobat ari pamjikanana dibogohan atawa sabalikna.
Nyokot lesot ngeumbing porot Teu aya usaha anu ngahasilkeun.
Nyolok mata buncelik nganyenyeri, ngahina atawa ngawiwirang di hareupeunana.
Nyuhun nanggung ngelek ngegel Rebo pisan, babawaanana loba naker.
Nyuhunkeun bobot pangayon timbang taraju Menta pangampura jeung menta timbangan da geus puguh rumasa ari salah jeung dosa mah.
Nyukcruk walungan mapay mapay wahangan Kalawan taliti pisan nalungtik luluhur, imeut pisan pancakakina.
Omong harus batan goong Beja the gancang naker nerekabna, malah sasarina mah beja anu nerekab teh leuwih hebat batan aslina.
Owah gingsir Hanteu tetep, henteu ajeg, gunta ganti pamadegan.
Paanteur-anteur julang silih anteur nepi ka aya dua tilu kalina.
Pacikrak ngalawan merak Tangtu elehna sabab nu leutik ngalawan anu gede.
Pada rubak sisi samping Sarua bae pada loba luangna, pada loba pangalamanana.
Pagirang girang tampian Paunggul unggul dina neangan pangupa jira (Paunggul unggul nyiar rejeki, teu daek silih seblokan).
Paheuyeuk heuyeuk leungeun Silih bantuan, silih belaan, silih tulungan.
Pait daging pahang tulang Arang gering.
Pait daging pahang tulang cageur teu keuna ku panyakit naon bae.
Pakotrek iteuk Laki rabi ti ngongora napi kakolot pisan, pada pada geus jadi aki-aki nini-nini.
Paluhur luhur diuk pagede gede kauntungan dina nyiar kipayah.
Panday tara bogaeun bedog Sasarina ari tukang mah sok tara bogaeun.
Papadon los ka kolong Cidra jangji, teu nedunan jangjina.
Peureum kadeuleu beunta karasa Inget bae, teu bisa poho. Biasana mah lain kana barang tapi ka jelema anu dipikancinta.
Piit ngeundeuk ngeundeuk pasir mikarep kaanu lain babadna, tangtu moal kasorang.
Pindah cai pindah tampian Robahna tempat matuh robah adat jeung kabiasaan.
Pinter aling laing bodo Pinter tapi embung kanyahoan ku batur, kusabab eta nyeta nyeta anu bodo.
Pipilih meunang nu leuwih koceplak meunang nu pecak Milih kalawan ati ati pisan ku lantaran hayang meunang nu leuwih hade, ngan ahirna meunang nu leuwih goreng.
Piruruhan katengahimahkeun Nu dusun didikan dibawa kana pasamoan.
Pupulur memeh mantun Menta ganjaran memeh aya jasa atawa menta buruhan memeh prak digawe.
Pur kuntul kari tunggul, lar gagak kari tunggak, tunggak kacuwatan daging Dina cidrana anu diborehan, boreh anu katempuhan, kudu mayaran hutang anu dipangnanggungkeun.
Puraga tamba kadengda Migawe hiji pagawean henteu jeung enya enya. Henteu ngandung maksud supaya hade hasilna ieu mah pada ulah dipaido bae.
Raweuy beuweungeun rambay alaeun Loba dahareun da loba pepelakan.
Rumbak caringin di buruan dina hiji kasusah atawa karerepet geus boga teu boga kolot anu mepelingan ka urang.
Rumbak kuntieun Henteu lengkep, aya bae anu kurang nu matak cua kana hate.
Rup ku padung rap ku lemah, katuruban ku taneuh beureum Maot. Sasarina ngeunaan kanyeri anu satungtung hirup moal poho sanajan nepi ka maot.
Rusuh luput gancang pincang Migawe naon bae anu rurusuhan, temahna matak kaduhung sabab hasilna teu matak nyugemakeun.
Sabobot sapihanean Sauyunan, sapapait samamanis sabagja sacilaka.
Sabuni buni anu ngising sanajan dibunian atawa disumputkeun oge ari laku lampah anu goreng mah awal akhir sok kudu kanyahoan bae.
Sagalak galakna macan taru nyatu anakna sanajan pohara bengisna nu jadi indung-bapa, umuna tara tega ka anu jadi anak.
Sagolek pangkek sacangreud pageuh Hanteu cidra kana jangji.
Saherang herangna cai beas Galibna hate teh hese pisan beresihna ka jelema anu geus bukti tas nganyernyeri ka urang.
Saherang herangna cibeas, moal herang cara cisumur Sasarina lamun geus aya pacengkadan sok tara hade deui cara bareto samemeh aya pacengkadan.
Sakecap kadua gobang Gampang ngambek jeung gampang ngadek deuih.
Sakiriciking duit sakocopoking bogo Naon bae anu matak narik kana hate urang.
Saluhur luhur punduk tara ngaliwatan hulu Sapinter pinterna murid pangartina moal ngaluhuran guru.
Sangsara di geusan betah Teuing ku miskin, teu boga naon naon pisan kulantaran geus embung digawe nyiar kipayah. Anehna the ari hirup mah hayang keneh.
Sapu nyere pegat simpay Paturay papisahan.
Sareundeuk saigel sabobot sapihanean sabata sarimbangan Sauyunan, layeut, tara aya pacengkadan.
Satengah buah leunca Teu jejeg ingetan, langlang lingling, kurang saeundan.
Saumur nyunyuhun hulu Saumur hirup rumingkang di bumi alam.
Saungkab peundeuy Omongan anu pondok tur kurang manis.
Sengserang padung Ngeunaan awewe atawa lalaki anu boga keneh napsuna cara baheula keur ngora keneh, sasarina aya di jelema nu geus kolot, nu tereh paeh.
Sentak badakeun teu ceehan dina gawe, mimiti pohara getolna, tapi beuki lila beuki ngedul nu tungtungna teh diantep teu dipigawe pisan.
Sereg di panto logor di liang jarum nyingkahan hirup kumbuh jelema loba, sabab loba dosa, loba kasieun jeung kaera, betahna dinu suni nu teu aya jelema.
Sereg dibuana logor diliang jarum Kulantaran loba kasalahan atawa dosa, embung cicing di nu rame, sabab sieun, karesepna the di nu suni, nu euweuh jelema.
Seukeut ambeu seukeut deuleu loba mata-matana jeung pinter nyusud perkara (keur pagawean pulisi).
Seukeut tambang manan gobang Sakumaha gagahna wanina jeung ngalawana oge jalma jahat mah awal ahir tangtu katangkep pulisi.
Seuneu hurung cai caah Keur ambek, keur amarah, keur napsu.
Seuneu hurung dipancaran Nu keur napsu, heug ditambahan pisan pikakeuheuleun, tangtu bae ngambekna jadi tambah.
Seuseut batan neureuy keueus Hese pisan.
Sibanyo laleur Ledis pisan, teu nyesa saeutik eutik acan.
Sirung ngaliwatan tunggul Darajat atawa milik anak ngaliwatan bapa.
Sosoroh ngadon kojor Kikiriman ku lantaran aya pangarahan tapi boro boro meunang kauntungan, kalahka meunang wiwirang jeung karugian.
Tamiang meulit ka bitis Malindes ka diri sorangan.
Tamplok batokeun Berehan teuing nepi ka urang mah susah.
Taya halodo panyadapan taya eureuna digelendeng atawa di dicarekan (Terus bae digelendeng atawa dicarekan).
Teng anak teng, anak merak kukuncungan sipat-sipat nu aya di anak, babakuna nu hadena, sasarina loba anu diturunkeun ku kolotna.
Teu aya sarebuk samerang nyamu Teu aya saeutik eutik acan.
Teu beunang dikoet kunu keked Teuing ku koret, tara pisan tutulung ka nu butuh tatalang ka nu susah.
Teu boga pikir rangkepan Teu boga curiga saeutik eutik acan.
Teu busik bulu salambar teu regrog regrog, malah unggul dina juritna.
Teu cari ka Batawi tapi ka salaki hakan pake hayang ti salaki.
Teu diambeuan teu dipikarisi, teu dipikagimir, teu dihargaan/diajenan.
Teu didingding kelir teu dibuni buni, ditembrakeun bae, teu dirasiahkeun.
Teu dipiceun sasieur Sarua pisan teu aya bedana saeutik eutik acan.
Teu ditari teu ditakon Teu dipalire diantep bae, teu ditanya tanya acan.
Teu gugur teu angina Samemeh kajadian naon naon, teu aya pisan beja, lantaran atawa ciciren.
Teu jauh ti tihang juru teu anggang ti tihang tengah Nya goreng rupana nya goreng kalakuanana sok daek pulang paling.
Teu mais teu meuleum teu aya patalina pisan, teu pipilueun.
Teu ngalarung nu burung, teu nyesakeun nu edan ngalajur napsu ka awewe, ka anu halal jeung anu haram oge disaruakeun bae.
Teu nginjeum ceuli teu nginjeum mata Ngadenge jeung nenjo sorangan lain cenah jeung baruk.
Teu nyaho di alip bingkeng bodo teu bisa maca-maca acan, da teu sakola.
Teu puguh alang ujurna teu puguh entep seureuhna, teu beres lain kitu kuduna.
Teu wawuh wuwuh pajauh, teu loma tambah paanggang Sing wawuh tur sing loma sabab balukarna alus pisan.
Teui hir teu walahir, teu kakak, teu caladi teu aro aro acan Teu baraya, teu kaka, teu adi teu alo alo acan. Deungeun deungeun tulen.
Ti luhur sausap rambut ti handap sahibas dampal Menta dihampura tina rumasa geus salah atawa boga dosa.
Ti peuting kapalingan ti beurang kasayaban Sababaraha kali karurugian atawa karoroncodan.
Tiis ceuli herang mata ngeunah hate kulantaran ngeunah deudeuleuan jeung dedengean.
Tikoro andon peso ngadeukeutan jelema nu bakal ngahukum atawa nganyenyeri ka diri urang.
Tinggar kalongeun Teu sieun atawa teu nurut kulantaran remen teuing digelendeng atawa dicarekan.
Tipu keling ragaji Inggris pinter dina kajahatan, pinter dina ngbobodo atawa nipu.
Titip diri sangsang badan Mihapekeun maneh.
Titirah ngadon kanceuh sejana nyiar kasenangan, tapi jadina pinanggih jeung kasusah nu leuwih gede.
Totopong heureut dibeber-beber, tangtu soeh nyukupan ku pangala nu sakitu saeutikna, tangtu bae matak jadi susah, lamun rejeki atawa pangala saeutik, ari keperluan jeung pangaluaran anu sakitu lobana.
Tugur tundang cuntang gantang Ngajalankeun pagawean pikeun Nagara, babakti ka nagara.
Tunggul dirarud catang dirumpak Euweuh anu dipikaserab, terus bae ngalajur napsu.
Tunggul sirungan, catang supaan Aya kajadian anu goreng atawa matak teu genah ahirna.
Tungkul ka jukut tanggah ka sadapan junun nyanghareupan pagawean anu dipilampah, teu kaganggu ku naon naon.
Ulah beunghar memeh boga ulah adigung nyeta nyeta anu beunghar, turtaning henteu atawa tacan boga pakaya.
Ulah cara ka kembang malati kudu cara ka picung Ulah sok bosenan ari ka pamajikan teh, hadena mah ti keur ngora keneh nepi ka geus kolot teh, lain beuki lila beuki bosen tapi kudu beuki lila beuki welas asih.
Ulah cara ka malati kudu cara ka picung Ulah ngurangan kanyaah kudu beuki lila beuki nyaah.
Ulah kabawa ku sakaba-kaba ulah kabawa ku nu teu puguh, maksudna kabawa jurig, dedemit.
Ulah muragkeun duwegan ti luhur masing nyaah kana rejeki meunang hese cape ladang kesang, pacuan arek dimonyah monyah.
Ulah pangkat memeh jeneng Ulah adigung adiguna hayang nyaruaan ka nu geus jeneng.
Ulah tiis tiis jahe kudu iatna, kudu cingceung.
Ulah unggut kalinduan ulah gedag kaanginan Ulah kagoda, ulah kaganggu atawa kabengbat ku rupa-rupa, lamun urang keur nyanghareupan hiji maksud anu hade.
Uncal tara ridu ku tanduk Duduluran karumpul kabeh.
Uyah tara tees kaluhur Galibna sipat indung bapa anu harade atawa anu goreng sok diturunkeun ka anak incuna.
Waspada permana tingal Bisa nyaho kana naon naon anu bakal kajadian.
Wiwirang di kolong catang nya gede nya panjang wiwirang nu pohara gedena.

Sabtu, 15 Mei 2010

Ngaguar Cawokah

Ngaguar Cawokah

Laporan : Mamat Sasmita

Cawokah ceuk kamus LBSS mah hartina teh jorang, porno, resep nyebut kecap-kecap nu kudu dibalibirkeun jeung nyaritakeun sual nu matak ngahudang birahi. Jadi hartina cawokah teh teu beda jeung jorang, sedengkeun jorang cek kamus keneh nyaeta sok resep ngucapkeun kecap-kecap nu kotor bisana sok dibalibirkeun, upamana nyebut larangan.

Pangna cawokah jadi jejer dina sawala di PSS poe Saptu tanggal 12 September 2009 teh kulantaran teu bisa dibantah carita cawokah mindeng kapanggih dina guguyon Sunda, komo dina carita lisan. Contona disertasi Lina Maria Coster Weijsman (1929) nu judulna Uilespiegelverhalen in Indonesie in het biezonder in de Soendalanden ( Carita lucu di Indonesia utamana di Tanah Sunda). Buku Serial Heureuy Parahyangan meunang Kang Nay (1972). Atuh ka dieunakeun mindeng kapanggih dina buku serial heureuy Sabulangbentor karyana Taufik Faturohman. Geus puguh ari dina guguyun lisan mah tara kaliwat carita cawokah teh. Kagambar kumaha ngehkeyna nu ngadengekeun atawa kumaha ekspresi jeung pepetana nu cumarita, dongeng cawokah lir hiji genre carita nu teu laas ku jaman.

Elin Samsuri (dosen manten ti UPI), kacida tapisna ngadongeng cawokah, malah boga istilah sorangan keur carita cawokah nyaeta dongeng kokak. Medalna istilah dongeng kokak, ceuk Elin, waktu ngadengekeun dongeng di basisir kaler, mangsa pamayang ngadagoan peuting memeh indit balayar. Ruang riung deukeut parahu, aya bujang aya lanjang, aya randa aya duda. Ngawangkong ngaler ngidul kamana hayuna, mimindengna bras kana carita cawokah. Bakating ku suka budak bujang seuri seeleun, bari teu sadar netekeman budak lanjang ku jaring heurap, atuh puguh we budak lanjang reuwas kacida, ngaoceak tibuburanjat bari nyebut „Kokak...kokak..kokak...“ . Kitu mimitina mah, waktu ditanya naon hartina kokak Elin teu mere katerangan ngan cenah kajadianana waktu suka bungah ngadenge dongeng cawokah, jadi teu salah teuing lamun cawokah teh sarua jeung dongeng kokak.

Ceuk Elin dongeng kokak nyampak di unggal strata masarakat. Nu penting cara ngadongengkeunana teu nembrak vulgar, tapi dipindingan ku metafora estetika. Kapan dina genre kasenian ge aya nu disebut sesebred. Eusina nya banyol nya kokak, upamana „Kaduhung maen kaleci, liang keuyeup reregean. Kaduhung boga salaki, liang keuyeup ngagedean.“
Beda jeung jorang, sabab dina jorang mah aya nawaetu nga-eksploitasi perilaku seksual jeung organ vital manusa salaku bahan baku dongeng. Jorang mah tujuanana ngahudang birahi, kalan kalan teu kasengker ku tetekon moral atawa ajen atikan.

Aya anggapan dongeng kokak hirup subur di masarakat kuricakan, lantaran dipikabutuh pikeun hiburan memeh sare sore-sore. Pamanggih ieu teh cek Elin mah salah kacida, da dongeng kokak aya dimana-mana, diunggal strata masarakat. Malah lain di seler Sunda wungkul. Dongeng kokak leuwih lemes dina ngadongengkeunana. Basana dipilih, dirautan dipapantes ku silib estetika. Nu dipalar ngahudang imajinasi jeung nalar lain ngan sakadar ngawewelan emosi seks. Dongeng kokak henteu ditembrakkeun ka audien nu heterogen, dongeng kokak ngan bisa sukses di hiji komunitas nu geus papada loma, dilingkungan anu sarua. Wangun dongeng kokak parondok jiga sketsa tina kajadian kahirupan sapopoe, dongeng kokak teu loba pangjajap tapi langsung kana inti carita.

Pamadegan Elin Samsuri nu ngabedakeun cawokah jeung jorang diheueuhkeun ku Achmad Gibson (dosen UIN SGD Bandung). Cek Gibson di Sunda aya dua istilah aya jorang aya cawokah. Hartina beda. Jorang mah konotasina porno, matak muriang saawak-awak, ari cawokah matak seuri, cawokah konotasina guguyon. Cawokah teh bagian tina porno tapi ngagunakeun basa humor dina eusina, atawa humor nu ngagunakeun objek porno. Eta dua kamungkinan teh sarua kuatna.

Ceuk Gibson dina carita cawokah teu aya niatan ngungkab nu sifatna pornograpi, murni we heureuy. Sigana ieu teh aya kasang tukang atawa aya aspek kultural nu marengan, malah rada aheng lamun urang Sunda teu resepeun cawokah, lir sapopoe teu resep kana jengkol. Dina cawokah aya pola silib, aya pola sindir, teu satarabasna. Analisis Gibson, cawokah teh sacara psikologis mangrupa alternatif keur ngaleungitkeun pornograpi. Cawokah bisa ngurangan kecenderungan pornograpi. Malah bisa jadi nu cawokah teh anti kana pornograpi. Cawokah aya kelasna, nyaeta gumantung deuheus henteuna jeung nu diajak nyarita. Kukituna dina cawokah aya tatakrama, teu bisa sabeledugna, biasana nu silib atawa malibir, ngan dina malibir biasana imajinasi seksualna leuwih jero Sisi lain, bisa jadi cawokah teh ekspresi erotik, pedah alam lingkungan Tatar Sunda mangrupa pagunungan nu hawa tiis, keur ngahaneutan suasana brasna kana carita cawokah.

Pamanggih Syafrina Noorman (dosen UPI), nu nitenan saliwatan dina facebookna Godi Suwarna (GS), yen guguyon sek jeung seksualitas (cawokah) teh dipikaresep. Tapi naha ieu teh ngan sakadar stereotip atawa naha bener cawokah teh geus jadi ciri (esensial) urang Sunda?. Syafrina teu mere jawaban tandes, ngan mere data :

  1. Tema cawokah leuwih loba nu ngomentaran.
  2. Eusi cawokah dina facebook GS nyebut kecap-kecap nu kudu dibalibirkeun saperti ngaran rarangan atawa kalakuan nu katarik ku sahwat atawa ngomong jorang.
  3. Tanggapan atawa komentar relatif leuwih loba ti awewe batan lalaki.
  4. Tanggapan ti lalaki kacawokahanana leuwih dilegaan kana rupa-rupa aspek malah intesitasna leuwih jero.
  5. Eusi komentar lamun papada geus loma leuwih wani.
  6. Tema cawokah jadi tempat interaksi ekslusif (kudu boga kawani keur ngomentaran).

Salian ti eta facebook dina internet salaku budaya pop geus mere kalaluasaan keur nyoara (mere komentar atawa nyieun status) boh keur lalaki boh keur awewe. Kulantaran teu kawatesanan ku umur atawa status sosial (nu maca umur tur stratana dianggap sarua) eusi status atawa komentar karasa sahinasna. Internet husuna facebook GS mangrupa identifikasi hiji komunitas (baca :Sunda) nu mere lolongkrang pikeun ayana tendentious joke nyaeta cawokah. Mere lolongkrang keur ngadurenyomkeun hal nu pamali/ tabu ku cara nu leuwih ditarima (dina kahirupan adu hareupan mah can tangtu bisa diomongkeun).

Tapsiran sejen

Salah saurang pamilon sawala mere komentar kana carita cawokah dumasar kana pamanggih Jakob Sumardjo tina buku Paradok Cerita Si Kabayan (Kelir 2008).

Hiji poe Si Kabayan katitipan pamajikan kiayi,cek kiayi „Kabayan kuring rek ka Peuteuyraket rek nagih hutang. Kuring nitip Nyai supaya dijaga, ngan Nyai boga kabiasaan mun sare sok kataranjangan (lain taranjang dihaja), tutupan we ku maneh“. Si Kabayan unggut-unggutan ngarti. Ngarasa katitipan Si Kabayan ngajugjug ka imah kiayi, kasampak teh enya we pamajikan kiayi keur sare bari sataranjang. Gura giru Si Kabayan neangan keur nutupan. Mimiti ku aseupan, ihh geuning teu pantes cek gerentes hatena, ku coet teu pantes, ku kekeban „ Ah teu parigel keneh!“. Ku pangarih teu pantes. Si Kabayan mikir bakal pantes lamun ditutupan ku awakna „tuh pan sakieu meujeuhna“.
Barang kiati datang, kacida ambekna pedah ningali pamajikanana ditutupan ku awak Si Kabayan. Si Kabayan ngajawab tuda ditutup ku nu sejen mah teu pantes, geura ku awak kiayi ge bakal pantes. Kiayi nutupan awak nyai ku dirina, cek kiayi „Heueuh we sakieu meujeuhna jeung ngeunaheun deuih“.

Carita siga kitu saliwatan mah siga nu jorang, cek Jakob Sumardjo pasualan rarangan eta teh ciri primordial Austronesia nu kabawa ka Nusantara, kaasup Sunda. Ningalina carita siga kitu ulah ngan ukur make cara eksoteris tapi kudu ku cara esoteris. Make cara primordial Sunda.
Pangarih pasanganana jeung dulang atawa boboko, cowet pasanganana jeung mutu, kekeban pasangan jeung wadah paranti sayur, aseupan pasangan jeung seeng. Kabeh ge barang nu dipake teh simbol dunya awewe. Jadi bakal teu pantes lantaran awewe ditutupan ku “awewe”. Lain jodona. Disebut pasangan kudu ngahiji antara eusi jeung wadah. Eusi teh awewe, wadah teh lalaki. Keur nutupan Nyai tangtu kudu ku “Kiayi” atawa “Si Kabayan”.Eta jodona. Pantes, ngareunah, manjing.

Paradok dina kahirupan, aya beurang aya peuting, aya caang aya poek. Lemah nu garing simbol lalaki, hujan nu baseuh simbol awewe, lamun ngahiji bakal ngahasilkeun harmonis dina wangun kasuburan. Keur urang Sunda jaman baheula, nempatkeun awewe dina harkat nu luhung, dina peran Sunan Ambu. Cara mikir cawokah urang Sunda lir ibarat cara mikir urang Sunda purba, urang Sunda jaman baheula.

(Dimuat dina Majalah Basa Sunda Cupumanik No. 76 Nopember 2009)

Nasib Kuda Mang Atep

Nasib Kuda Mang Atep

Ku : MAMAT SASMITA

Cek Arysio Santos, akademisi ti Brasil nu nulis buku Atlantis yen Atlantis teh di Indonesia, kataji aya guaran perkara basa, cenah mah Sri, di urang kawentar Sangyhang Sri, dewi pare, asalna tina basa Dravida tina kecap arici atawa sarici hartina pare, tuluy eta kecap arici atawa sarici teh sumebar ka mancanagara. Di urang mah jadi Sari tuluy jadi Sri rajeun sok ditulis Çri, ari ka Inggris jadi rice, ka Yunani jadi ryzoma, ari dina basa Latin jadi cerealis. Di urang ge aya nu disebut cere, salah sahiji jinis pare. Dina ieu tulisan lain rek ngabahas eta, da teu kaawakan, teu kaelmuan maksud teh, eta mah bagian ahli lungistik.

Nu rek ditulis teh nyaeta perkara Mang Atep, lain Atep Kurnia pamaen Persib, tapi Mang Atep nu imahna di Cieunteung Bandung Kidul. Dina mangsa keur usum ngijih mah urang Cieunteung teh sok degdegan lantaran mindeng kabanjiran ti Citarum.

Ari rek nyebut Mang Atep teh sok rada asa-asa, sieun disangka cadel. Ngaran Atep teh meureun tadina mah tina Asep ari Asep pastina tina kecap kasep, sok aya deui nu nyebut Acep, Encep, Cecep, Ecep, Aep atawa Eep. Kitu teh lain keur ngaran lalaki wungkul da ngaran awewe ge kitu, aya Eulis, Euis, Iis kadituna aya Lilis, pastina eta teh tina kecap geulis. Nilik ka dinya meureun kecap Sari (pare) teh bener asalna tina basa Dravida nepi ka kapanggih kecap Sri masih keneh saakar jeung kecap rice dina basa Inggris, sigana sarua we prosesna siga kecap kasep jadi Asep jadi Atep atawa jadi Cecep.

Mang Atep sapopoena boga kasab jadi kusir delman, teuing delman teuing sado atawa kahar nu kitu teh, rada hese ngabedakeunana jaman kiwari mah. Mangkalna sok di pasar Dayeuhkolot, kitu we ngakut ibu-ibu nu tas balik atawa nu rek ka pasar. Hasilna mah lumayan da bisa ngabayuan anak jeung pamajikan malah mah aya anakna nu nyuprih elmu di paguron luhur. Sanajan hirup pas-pasan teu weleh dilakonan, da inyana sadar euweuh deui kasab sejen nu dikawasa luyu jeung pangabisana. Sadrah kana kadar, najan kalan kalan osok ngarasula, geuning nasib teh teu robah-robah. Geus ampir tilu puluh taun jadi kusir, sugan nambahan kahar atawa nambahan kuda da henteu. Panghasilan teh plus plos we keur kaperluan sapopoe.

Mang Atep keur guligah manah, lain pedah inget ka bebene atawa ka kabogoh mangsa keur ngora, ieu mah lantaran padumukanana kacaahan. Jadi buntu laku, usaha ge pugag, padahal pan beuteung mah teu nyahoeun keur caah, mun geus waktuna pasti nagih eusi. Lain ngan ukur dirina, anak pamajikanana ge sarua. Mana boga nu leutik keneh deuih, disebut leutik teh kitu lah umur dalapan taunan, keur meujeuhna gembul barangdahar. Geus ampir dua minggu lembur Cieunteung kakelem caah, kitu deui pasar Dayeuhkolot. Cai semet dada, pasar ngemplang jadi situ dadakan. Cek pangrasa Mang Atep caah taun ieu mah asa leuwih rongkah, inget keneh taun kamari mah caah teh ukur kana cangkeng, ari taun ayeuna suhunan imah ge ampir kakelem. Atuh saanak pamajikan kudu gura-giru ngungsi, banda pakaya nu aya di imah dibawa, teu rea nu bisa kabawa teh ukur nu bisa diakut ku delman, jeung disuhun ku saanak pamajikan.

Sanajan ngungsi kitu teh meh unggal taun, unggal usum ngijih. Tapi angger we matak keuheul, ngangres, baringsang, na caah teh teu euih euih. Keur usum ngijih matak caah ngagulidag, keur usum halodo walungan teh bau pinuh ku kokotor. Piraku euweuh nu mikiran mah, pan urang teh boga pamarentah, loba nu palinter, loba nu ngaku kawasa. Geura sok lamun dina mangsana kampanyeu nu harayang dipilih ku rahayat, apan sakitu aramisna jangjina teh. Awong-awongan ngomong, dedepean adab lanyap, da aya kahayangna ti rahayat. Asa euweuh karasana gunta-ganti pamingpin teh. Geus ah ngarasula wae mah euweuh tungtungna, nasib rahayat mah ditangtukeun ku nyiar kipayah sorangan.

Nu kacida dipikiranana ku Mang Atep teh nasib kudana. Mangkaning kuda teh keur Mang Atep mah sasat panumbu umur. Keur caah sakieu upluk aplakna, kamana kudu neangan parabna. Ngarit, ngarit jukut dimana, apan sakuriling bungking keur kakelem ku cai. Ma enya kudu diparaban ku mi instan mah, sadirieunana Mang Atep jeung kulawargana mah leuheung da sok aya bantuan beas jeung mi instan, ari keur kuda? Da euweuh nu mogramkeun mere bantuan keur ingon-ingon, keur kuda hususna. Meri onaman loba cai teh meureun resepeun we ngojay kaditu kadieu. Rek menta bantuan ka RT atawa ka kalurahan, ngumaha parab kuda sigana moal didenge, boa bakal diseungseurikeun. Ari ketua RT mah geus puguh tong boro mikiran batur apan dirina ge sarua imahna kakelem. Duka teuing ari gubernur atawa bupati atawa anggota DPR(D) mikiran kuda teu nya, kuda nu Mang Atep, lain kuda tunggangan nu sok diluis-luis ditatap diusap ku nu baroga duit. Tapi ketah tingkat bupati atawa gubernur mah teu kudu mikiran kuda nu Mang Atep, perkara cetek nu kitu mah. Nu kudu dipikiran teh kumaha sangkan caah atawa banjir di Bandung kidul taun hareup bisa kaungkulan, ulah ngan ukur diseminarkeun wungkul. Upama teu bisa ngungkulan tong hayang jadi gubernur atawa bupati atuh. Karunya kuda Mang Atep bakal katalangsara unggal usum ngijih.

Bandung keur hujan ngagebret Maret 2010
(Dimuat dina Cupumanik No.81 April 2010)

Dongeng Sasatoan (Dongeng Hewan)

Dongeng Sasatoan (Dongeng Hewan)

Berikut ini adalah cerita (dongeng) berbahasa sunda yang melegenda di masyarakat parahyangan (masyarakat sunda). Isi dari ceritanya biasanya mengandung siloka (simbol) yang biasanya disuhguhkan untuk anak-anak.

Dicutat sacerewelena tina buku Dongeng-dongeng Sunda jilid I jeung jilid II beunang M.Saleh,medal taun 1910, iwal ti ejahanana nu dirobah teh.

TILU SATO

Ajag ngomong ka bancet : “Naha maneh asoy-asoyan bae, mun digawe barangsiar cara batur”. Wangsulan bancet : “Hih lain teu digawe, puguh kaula teh sieun, krur diintip-intip bae tuh ku bango, rurupaanana kawas rek neureuy bae ka kaula teh”.
Ajag malik nanya ka bango : “Naha silaing bango, goreng-goreng teuing, teu hade kitu ka sasama mahluk mah”.
Jawab bango: ”Teu pisan-pisan kaula rek nganiaya bancet. Ongkoh sampean anu goreng teh, ti tadi mula ngunguntit bae ngarah kaula. Didodoho diarah bongohna. Hadena bae kaula caringcing”
Ajag eraeun tuluy bae balik.

AJAG JEUNG ANJING

Ajag papanggih jeung anjing di sisi huma. Anjing nanya: “Rek kamana sakadang ajag?“
Jawabna: “Teu, rek nyaba bae“. Cek anjing: “Tibatan nyaba teu puguh mah anggur urang nyampeurkeun manusa. Geura manusa mah bageur sok mere kahakanan nu ngareunah“
Omong ajag: “Hayu atuh dewek milu“
Teu lila jol paninggaran rek moro ka leuweung. Anjing nyampeurkeun bari kupat kepot malar dipikarunya. Ku paninggaran dicetrekan bari diheotan. Lung dialungan leumeung ketan sapotong.
Ajag nyampeurkeun bari nyanggerengan. Paninggaran gancang nyabut pedang. Barang rek dikadekeun, ajag ngejat lumpat ka nu bala bari ngomong : “Edas bae, kutan manusa teh sakti, igana hiji dicabut, rek diteunggeulkeun ka aing. Lamun aing teu gancang ngejat mah tangtu paeh“.
"Ah ti samet ayeuna aing moal deui-deui nyampeurkeun bangsa manusa“.

MAUNG, EMBE JEUNG AJAG

Ajag ngomong ka embe : "Bagea sakadang embe, tas ti mana, naon bae nu diseja datang ka kaula teh?“
Jawab embe: “Puguh kaula teh keur meunang kasusah banget pisan. Nu kagungan leuweung geus meunang dua peuting ngulincer bae di pakarangan rek ngarah kaula“.
Jawab ajag : "Hih tai ceuli teuing sakitu mah. Tah tektek seupah bae sing ngabulaeh. Aing tuturkeun ayeuna ka tempat maung“.
Pek embe dipapatahan piomongeunana.
Barang ajag keur adu hareupan guntreng cacarita jeung maung, embe datang bari cupak capek, sungutna beureum kawas tas nguyup getih bae.
Cek ajag : "Aeh sakadang embe, tas ti mana, kadieu eureun heula“.
Jawab embe : "Lah puguh tas mumuluk, bieu di lebak manggih maung keur nundutan, gede teh. Diteunggar ku kaula, ngan sakali pisan, sek bae paek. Tuluy bae dikecrokan polona, alah aya pulen. Lamun dewek nyaho yen silaing aya di dieu, meureun dipangjingjingkeun atina. Ayeuna silaing boga eta hiji nya?. Polona bagian dewek, keur nyeubeuhkeun. Dagingna katut tulang-tulangna mah top bae jang silaing“
Barang maung ngadenge omongan embe kitu, ngejat bari ngagaur, sieuneun ku embe, asup ka jero leuweung.
Ti harita maung tara ngintip-ngintip deui ka eta embe.

BADAK JEUNG SAGALA SATO

Hiji mangsa sagala sato dina hiji leuweung daratang nepungan peucang,
Cek Peucang : “He batur-batur naon pikarepeun sampean daratang kabeh ka kaula?“
Jawab sapi kolot : “Kieu ujang, kaula teh sabatur-batur nu matak daratang ka dieu rek menta tulung pangmaehankeun badak, karana kekebonan kaula kabeh ruksak diranjah ku badak. Geus
sababaraha kali dicaritakeun tapi teu daek ngagugu bae. Ayeuna kabeh kaula nyanggakeun, sing karunya bae ka kula jeung ka batur-batur“.
Jawab peucang : "Keun bae, eta mah kumaha kaula bae“.
Pareng peucang papanggih jeung badak.
Cek peucang : "Kiyai, naha kiayi geus ngadangu carios yen maung Raja leuweung ieu rek liren tina ngasta karajaan. Kaula hayang pisan dirajaan ku kiayi. Pantes pisan mun jadi raja, aya gagah, sakti, tambah-tambah kaumbang ku dedeganana, geus teu ningnang jadi raja teh.
Jawab badak : "Atuh puguh hayang mah. Ngan kumaha piakalaneunana“
Omong peucang : "Hih gampil, engke wengi urang sarare bae di patapan kuring di gawir Si
Lungkawing, sugan pinareng aya ilapat nurbuat ragrag ka kiayi“.
Geus peuting dug ngaredeng di sisi gawir, ari badak beh tengah. Barang geus peuting pisan peucang pindah lalaunan. Tuluy ngomong lalaunan : “Kiayi, iser ditu, kuring sieun ragrag, ieu tember pisan!“.
Badak teh teu rarat reret deui, tuluy ngeser. Ana gurubag teh badak tiguling ka lebak nu jungkrang pisan, nepi ka hanteuna.

BANGSAT JEUNG GAMPARAN

Aya bangsat maling munding ti urang lembur. Ku manehna dibawa baris dijual ka sejen tempat. Nu boga nyusul. Ti kajauhan keneh geus katembong, bangsat teh keur nungtun munding. Nu boga bingungeun kumaha piakaleunana sangkan eta munding kapimilik deui. Ari rek dipaksa direbut teu wani, turug-turug teu aya batur sahiji.

Tuluy leumpang gancang motong jalan jajahan, megat pijajalaneun bangsat tea. Sok manehna neundeun gamparan sabeulah di pijajalaneun bangsat tea. Tidinya manehna nyumput. Barang bangsat ngaliwat ka dinya, eta gamparan teh dicokot ku bangsat teh tapi dilesotkeun deui. Tidinya nu boga munding, lumpat maju ka hareup, sok neundeun gamparan sabeulah deui di tengah jalan. Manehna nyumput deui di nu bala.

Barang bangsat nepi ka dinya, tuluy ngarandang nyokot gamparan bari semu mikir. Mundingna dicangcangkeun kana tangkal kai. Bangsat balik deui ka tukang rek nyokot gamparan nu tadi dilesotkeun tea.

Sabot bangsat keur nyokot gamparan, nu boga munding teh gancang nyokot mundingna dibawa balik, salamet nepi ka imahna.

KIAYI

Aya hiji kiayi hayang boga minantu ka tukang macul. Hiji poe datang sudagar nanyaan, tapi teu ditampa, sabab waktu sasalaman jeung kiayi karasa leungeunna lesang, jadi katangen yen lain tukang macul.

Sababaraha jelema nu nanyaan teu ditampa bae, da leungeunna teu karadak. Kadenge ku nu lolong, yen kitu rahasiahna kiayi, tuluy leungeunna dibalur ku ketan, jung indit ka kiayi. Datang-datang tuluy sasalaman, cek pikir kiayi : "Ah keun bae lolong-lolong oge da leungeunna mah karadak, tangtu ieu tukang macul".

Cek Kiayi: "Sampean montong mulang deui, bakal dikawinkeun ayeuna ka anak kaula“.
Isukna minantuna dititah macul ka sawah, tengah poe pamajikanana nganteuran.
Sudagar nu nanyaan pangheulana tea, teu ngeunaheun, panas hatena, tuluy nuturkeun ka sawah. Nu lolong teh diosol sarta dibere duit ku sudagar supaya mikeun pamajikanana jeung nyingkah ti desa eta. Ari pamajikanana baralik jeung sudagar, sadatang-datang anakna cacarita ka bapana, nyaritakeun yen salakina jadi beunta henteu lolong.

Jawab bapana : “Alhamdulillah nyai, sukur..sukur..!“.

ANAK TUKANG BOHONG

Si Salham anak tukang bohong. Geus kaceluk kamana mendi yen Bapa Salham jelema gede wadul, gede omong, sumawonna tatangga-tatanggana mah geus teu aya nu percaya saurang-urang acan kana omong Bapa Salham teh. Lamun aya jelema ngawadul cek baturna teh “Silaing mah kawas Bapa Salham bae”.

Barudakna ge salembur eta mah geus nyarahoeun kabeh, nepi ka nelah Si Salham anak tukang wadul. Sakali mangsa mah Si Salham kacida ngenes atina, dumeh rek milu ulin ku baturna teu dibawa, pokna: “Montong ulin jeung Si Salham bisi katepaan wadul, da anak tukang bohong, meureun manehna ge gede bohong”. Tina ngenesna, tuluy balik ka imahna bari jamedud. Manehna teh ngomong bae di jero atina ku hayang ngabuktikeun omong batur-baturna, naha enya bapana teh ahli wadul atawa pitenah bae.

Kabeneran barang datang ka imahna, cek bapana : ” Salham isukan mah maneh ulah ulin, urang ngala suluh ka leuweung”. Walon Si Salham heug, Di jero atina manehna ngomong:” Nya ayeuna bisa nyelok ka bapa teh”.

Kacaritakeun isukna isuk-isuk bral arindit ka leuweung, mekel timbel, deungeunna oncom jeung sambel, da lalabna mah di leuweung ge loba. Ari Si Salham mawa wajit deui hiji diselapkeun dina calana. Barang nepi ka leuweung, cek Si Salham: ”Euleuh, bapa....itu badak”.
Omong bapana: ”Euleuh heueuh, deuleu itu anakna aya dalapan”. Cek SiSalham:”Mana bapa?”. Cek bapana deui: ” Tuh geuning ka lebak”. Padahal euweuh badak, euweuh naon-naon.

Si Salham ngomong di jero atina: ” Beu, enya, manahoreng bapa teh tukang wadul". Tidinya ger maranehna ngala suluh. Kira wanci pecat sawed Bapa Salham jeung anakna areureun di handapeun tangkal kai rek murak bekelna, ari lalabna mah geus ngunduh, bongborosan jeung pupucukan, keur bawaeun balik ongkoh sawareh..

Kacaritakeun deukeut ka dinya aya susukan gede. Sanggeus entep barang daharna, kesang geus pepes jeung geus reureuh capena, Si Salham ngomong, pokna: ”Bapa, kula hayang mandi heula, cing anteur”. Tuluy Si Salham jeung bapana ka cai. Barang datang ka cai Si Salham mandi, tapi calanana dipake bae, lep teuleum. Barang bijil deui tuluy hanjat, pok ngomong ka bapana : ”Euleuh bapa, mana horeng di jero cau teh aya lembur, di dinya aya nu keur kariaan, kaula ge dibawa ngariung, tah ieu berekatna ngan mawa wajit we hiji”. Walon bapana: ”Aeh aeh na enya?. Cing bapa rek kaditu”. Tuluy Bapa Salham turun ka cai, lep teuleum. Ari susukan teh teu kira-kira loba batuna, kawantu susukan di pagunungan. Bapa Salham tidadalagor kana batu, tarangna bancunur. Ari teuleumna mah teu wudu kebel. Tidinya jol deui bijil, tuluy hanjat.

Cek Si Salham: ”Kunaon bapa tarang baloboran getih?”. Walon bapana: ”Har kapan bapa teh di nu
kariaan ditanggap menca, diadukeun jeung urang ditu, teu wudu rada ripuh diteunggeulan tarang, tapi ari nu eleh mah itu, rubuh ku bapa, teu bisa hudang deui”. Omong Salham: ”Na dimana bapa aya nu kariaan?”.

“Kapan di ditu di jero cai”.
Cek Si Salham: “Atuh sameureun bapa, kula ku batur-batur sok disarebut anak tukang wadul nepi ka btur teh teu daraekeun dipiluan ulin, kula teh kacida nya ngenes ati. Manhoreng bapa teh lain ka deungeun-deungeun bae ngawadul teh, ka anak ge kitu we. Ari kitu mah bapa teh lain nyontoan bageur ka anak teh. Cing atuh bapa ulah kitu“.
Bapa Salham reup geuneuk ray pias, awahing ku era ku anakna, sarta niat di jero atina rek kapok moal wadul-wadul deui.

TILU RUPA PAMÉNTA

Jaman baheula aya hiji jalma teuing ku malarat, dahar soré henteu isuk. Ari pakasabannana buburuh ngangon domba. Sanajan manéhna kacida getolna, henteu mahi baé, sumawonna cukup keur sapopoé, sabab panghasilanana leutik. Ari buruhannana dina sabulan téh ukur lima geugeus paré jaba dahar. Demi dununganana jalma beunghar, tapi teuing ku korét jeung licik, ka pangangon téh ngan minteran baé. Upama tukang ngangon domba rék indit ngangon, dibekelan téh ngan ukur sangu jeung uyah sambel, langka pisan dibéré deungeun sangu nu séjén. Lamun keur usum panén, dibéré paré buruhan téh sok dipangmilihkeun paré nu gambrang pisan. Atuh mun dijual téh teu sabaraha hargana, teu bisa keur meuli baju nu pangmurahna. Papakéana geus ruwang rawing pisan, cara jalma nu owah baé. Sakali mangsa tukang ngangon téh gering nepi ka teu bisa ngangon, ku dununganana teu diurus. Barang geus cageur sarta keur mamayu, ngan can kaduga ngangon. Ka dununganana ménta barang dahar teu dibéré da can aya hasil gawéna, nepi ka manéhna jajaluk. Liwat saking prihatin sarta ngenes di jero haténa.

Beurang peuting manéhna neneda hayang bisa cara deungeun-deungeun, teu kurang ku dahareun, teu kurang ku pakeeun. Ku tina nyeri haténa, antukna miceun manéh ka leuweung, teu dahar teu nginum. Barang geus meunang sababaraha poé saré di leuweung hanpaeun tangkal kai. Ari hudang bet manggih batu gigireunana tilu siki, sagedé-gedé muncang, baruleud laleucir, kawas batu cao. Teu kira-kira manéhna kagéteunana. Ngomong di jero haténa : “Na saha nu neundeun ieu batu téh, da tadi mah euweuh“. Sabot kitu kadéngé aya sora tan katingalan, pokna : "Hé jalma miskin, kusabab manéh sakitu prihatinna, ayeuna paménta manéh dikabulkeun. Manéh meunang ménta tilu rupa, naon baé karep manéh, Unggal rupa paménta éta batu anu tilu kudu dialungkuen hiji-hiji“.

Tukang ngangon kacida atohna, batu dicokot, di kana pesakkeun, bari nyembah acong-acongan, pokna : "Nuhun Gusti, nuhun..!!“
Ti dinya tuluy indit rék balik ka lemburna. Sajajalan émut ngaggelenyu seuri sorangan, awahing ku atoh, bari mikir-mikir rék ménta naon.
Di jero haténa : "Hiji aing rék ménta beunghar, dua rék menta jadi raja, sanajan beunghar gé ari teu boga kakawasaan mah kurang sampurna, katilu rék menta boga loba anak, sangkan aya nu nuluykeun jadi raja, sarta aya nu ngurus banda pakaya”.

Barang datang ka imahna, manéhna rék nyoba ménta beunghar, tapi cék pikirna leuwih hadé menta duit baé sing loba, sabab ari ménta munding atawa kuda mah amba, jeung deui ari geus boga duit mah hayang naon-naon gé tangtu bisa. Tuluy ngodok batu rék dialungkeun bari ménta téa. Tapi ngomongna kacalétot, maksudna rék menta loba duit ari pok bet ménta loba ceuli. Barang keleweng téh batu dialungkeun, ngan reng wé awakna pinuh ku ceuli, kawas tunggul pinuh ku supa lémbér. Atuh manéhna gogoléran ceurik, awahing ku gila ningali awak sorangan, jeung handeueul paménta geus mubadir hiji.

Sanggeus rada leler, ngomong di jero haténa : ”Ah keun baé teu kudu menta jadi raja, teu kudu loba anak, dapon beunghar baé, ieu batu nu hiji rék dialungkeun deui, menta supaya ceuli leungit kabéh”. Keleweng batu dialungkeun. Les baé ceuli nu rimbil téh ngiles, leungit kabeh. Manehna bungah liwat saking, sarta niat rék ati-ati dina ménta nu katilu supaya ulah kacalétot deui. Dumadak inget kana ceuli nu dua, nu asalna aya, bet euweuh, kabawa leungit ku ceuli ciciptaan. Atuh ngan hing deui we ceurik, leuwih tarik batan tadi, sabab paménta ngan kari hiji deui.
Ngomong di jero haténa : “Kumaha petana, ayeuna lamun aing ménta beunghar tangtu jadi jelema tanpa daksa, teu boga ceuli. Lamun tetep ménta ceuli nu asli balik deui, meureun tetep jadi jalma malarat”.

Tidinya jorojoy baé aya pikiran nu sampurna, cék atina : ”Wah leuwih hadé aing ménta didatangkeun deui baé dua ceuli nu asli, sabab saur sepuh gé nu utama mah badan walagri sarta cageur, éta téh leuwih utama batan kabeungharan. Saenyana jalma nu disebut beunghar téh nyaéta jelema nu narima kana kulak canggeum awakna. Saperti diri kuring da geus milikna kudu malarat, ari usaha mah da geus dilakonan. Hanas éta teu boga dahareun jeung pakéeun nya rék ihtiar wé, da anggahota lengkep, tanaga rosa. Anggur rék néangan deui baé dunungan nu bageur tur haat ka diri kuring.
Tidinya batu nu tinggal sasiki téh dialungkeun, ménta ceulina nu asli balik deui sabihari. Harita kénéh awakna walagri deui.

geugeus : beungkeutan paré kira-kira sagedé bitis budak.
gambrang : paré loba nu hapana.
owah : gélo
jajaluk : baramaén
batu cao : batu pualam
amba : rungkang, matak ridu mamawa.
walagri : séhat, henteu cacat.
rosa : bedas, kuat.
kulak canggeum : nasib, milik diri
gila : rasa teu ngeunah upama ningali barang nu pikageuleuheun
anggur : anggursi, leuwih hadé, mending gé
anggahota : bagian awak
haat : hadé haté
kasab, pakasaban : pagawean, pangupa jiwa
korét : pelit, medit
kaduga : kuat, wani.

Carita Pondok "Ateul"

Carita Pondok Ateul

Ateul

Mun awak geus ateul, bet hayang diturihan, disisit ku hinis, dipépéhék manjing kéré lauk, kulit lestreng dikalantang dina gantar. Gégétrét ku leungeun dalapan pasang. Dina mumuncangan, dina bujur, dina bitis, dina tonggong, dina kongkolak mata, dina pipi, dina dada, dina palangkakan. Ateul, lir tari jaipongan, awak oyag, kiceup, rérét, buncelik. Ngadégdég, ngageter, muriang. Enya kudu ka Puskesmas. Cék Mang Jamal gé dokterna bageur jeung geulis.

„Tong diantep panyakit mah, jung ka puskesmas. Dokterna geulis, dadana ngablak, ramo leungeunna mecut, mun keur mariksa teu weléh imut”. Mang Jamal téh tatangga, bageur, sakapeung sok méré dahar. “Geus ngaliwet jang?”, kitu mindeng nanyana téh, mun kuring ngajawab encan sok terus mawa sangu sapiring. Éra ari mindeng teuing mah, antukna kuring sok remen ngajawab geus dahar najan encan gé.

Ari cék Si Kuya mah panyakit ateul nu ku kuring karandapan téh asalna tina strés, majarkeun kudu buru-buru kawin. Si Kuya mah babaturan sakola nepi ka SMP, kuring mah magol teu neruskeun, ari manéhna junun nepi ka lulus ti paguron luhur. Sarua ieu gé tatangga kuring, batur ulin ti leuleutik. Disebut Si Kuya téh éta mah lalandihan, pédah wé diimahna boga cocooan kuya leutik jaman keur sakola dasar. Ari kuring ku manéhna dilandi Si Légé, pédah kungsi boga cocooan légé. Teu dileuleungit kahaat Si Kuya téh, najan manéhna geus jeneng, boga gawé di kota, ari ka sobat mah teu poho. Basa keur bareng sakola di SMP kuring sok resep maca buku atawa koran di imahna, nepi ka ayeuna Si Kuya teu weléh ngirim bacaan najan, urut boh buku boh majalah.

„Sanajan ilaing teu terus sakola, ari maca mah ulah kaliwat“ kitu basana téh.

** Haté gilig rék ka puskesmas, rék uubar ka dokter. Di puskesmas geus loba jelema, nu garering. Heueuh ari kituna mah, di puskesmas tempatna jelema gering, di pasar tempatna jelema jagjag, di masjid tempatna jelema ibadah, ngan ari tempatna jelema korupsi mah teuing dimana. Sanggeus digeroan kuring dititah asup ka rohang pamariksaan dokter. Enya wé dokterna geulis, ngan dadana mah teu ngablak, teu make baju lahak. Wah bohong Mang Jamal téh, atawa pédah make baju saragem dokter, baju bodas terusan, jadi teu kaciri ngablakna. Kuring ngadongéngkeun panyakit ateul nu karandapan. Dokter geulis téh ngareungeukeun bari kutrat kotret nulis. Terus kuring dititah nangkarak dina méja pamariksaan. Rada degdegan dititah nangkarak ku nu geulis. Dipariksa dada jeung kulit dialak-ilik. Rérés dipariksa, dokter nanya. „Padamelan sadidinten naon?“> „Ngangon meri“ „Kamana baé ngangon téh?“ „Ka sawah nu tos dibuat sareng ka solokan“ „Upami karaosna ateul téh nuju kumaha?“ „Nuju nongton berita di télévisi“ Dokter mureleng neuteup, meureun disangkana heureuy. Cék kuring, mun ateul rék karasa, mimiti ngarey kawas ningali balingbing wulung, haseumna geus karasa najan can antel kana létah. Terus culcel ateul siga dicoco tumbila atawa karasa ngagarayam siga disasar tuma. Padaharan murel. Pudigdig kulit ngandelan, sabulu-bulu rancung nanding jarum. Awak jegjreg jadi papan, ateul geus ngagulung, gumulung lir gula jeung peueutna. Ateul aya diunggal titik, parat ti titik ka titik. Ateul geus ngajirim. Ateul geus lain kecap sifat geus robah jadi nomina jeung verba.
„Pareuman atuh télévisina“ cék dokter. Tembal kuring, bongbolongan kitu mah sarua jeung bongbolongan ti Mang Jamal papada tukang ngangon meri, hayang meunang bongbolongan siga kitu mah teu kudu ka dokter nu sakolana lila. Ngadéngé kitu dokter ngagadeud tapi ditungtungan ku imut ngagelenyu. Daréhdéh dokter téh, teu pundungan. „Kieu wé atuh kang, ayeuna mah candak ieu ubar, nu ieu mah vitamin supados awak akang séhat teras nu ieu mah dileueut upami badé kulem“ Asa nyeblak disebut akang ku nu geulis, kuring unggut-unggutan bari nampa ubar, gerentes haté tah ieu bédana Mang Jamal jeung dokter. Mang Jamal mah teu wasa méré ubar, ukur nyebutkeun nitah ngarieus daun baluntas jeung awak kudu dibalur ku parudan laja, sigana nyebut kitu gé ukur sapokna. Enya wé saprak nginum ubar ti dokter, kana dahar jadi gembul, atuh saré nyegrék baé, tara aya hayang lalajo télévisi. Ngan basa ubar béak kabiasaan lalajo télévisi téh kanceuh deui, atuh panyakit ateul gé datang deui. Panyakit ateul téh karasana geus méh tilu bulan, karasa ateul awak téh basa mimiti aya warta dina télévisi soal cakcak jeung buhaya, kadieunakeun ateul beuki meuweuh sanggeus aya warta kasus Bank Céntury.

** Ngaduakalian, uubar ka puskesmas téh dianteur ku Si Kuya jeung Mang Jamal da disangkana kuring gering parna, pédah tilu poé teu ngangon meri. Ateul karasa ngan lain ukur dina kulit tapi nyaksrak kana haté jeung uteuk. Ateul mawa ngapung, ngajak sidéngdang, nyiriwik kana sela-sela méga, eunteup kana unggak pucuk daun. Ngilu ngeclak dina reumis, ngilu liket dina leutak, dina keusik, dina cai, dina hawa, dina seuneu. Laut, talaga, walungan, gunung, leuweung, kabéh jadi ateul. Kuring dipayang, digolérkeun dina méja pamariksaan dokter. Puguh wé dokter reuwaseun, da kadéngé jeung karasa gura giru nyabakan awak. Kadéngé Si Kuya nu ngajelaskeun kaayaan kuring ka dokter.
Kuring mah ngahéphép wé ngagolér, pajuranteng pikiran, aya kenur, aya tambang, aya bola kasur, aya tambang injuk. Kondéal aya pikiran waras, boa, heueuh éta ubar ateul téh, dipikir dibulak balik. Heueuh éta. Koréjat kuring hudang bari ngagorowok „ Kuya...manggih euy ubar ateul téh...“ kuring turun tina méja pamariksaan, jumarigjeug leumpang ka méja dokter. Si Kuya buru-buru nyangkéh, bisi labuh meureun, da awak karasa lanjung pédah teu dahar tilu poé. Sabenerna lain teu hayang dahar, hororéam wé rék ngaliwetna, ari rék meuli asakan ka warung, rada jauh jeung ongkoh euweuh titaheun. Ari Mang Jamal nu biasana haat, harita keur mangkalan, ngangon meri di sawah lembur séjén rada anggang. Ayeuna nganteurkeun kuring gé pédah wé Mang Jamal disusul ku Si Kuya ka tempat mangkalanana. „Dokter punten abdi tadi ngagorowok pedah atoh mendakan ubar ateul“ „Cik naon atuh ubarna téh...“
„Abdi kedah janten meri..!“
„Légé,...na sia téh gélo?“ „Anjiirr uing disebut gélo, Kuya ayeuna mah mending néangan sangu ka warung, uing lapar yeuh, soal gélo mah engké wé didongéngkeun..!“
Si Kuya, acong-acongan ménta dihampura ka dokter pédah geus ngaganggu bari jeung teu puguh uubarna, da kuring maksa balik pédah hayang dahar. Si Kuya rada lila ngomong jeung dokter, kuring mah dibéyéng ku Mang Jamal dibawa kaluar. Di jalan Si Kuya nyarita yén dokter nanyakeun naha kulawarga kuring euweuh nu ngurus. Ku Si Kuya dicaritakeun yén kuring jalma nunggelis, saprak kolot kuring dipundut ku nu kawasa basa keur kelas hiji SMA.

** Katilukalina kuring manggihan dokter di puskesmas, lain rék uubar, tapi rék mikeun surat ondangan, kuring rék kawin. „Ngiring bingah, ngéngingkeun urang mana kang..?“ „Ah sareng batur salembur wé, putrana DPR...Dagang Peuyeum Ripuh, da kadinya kupuna, tukang ngangon meri ka putrana nu dagang peuyeum...!“ “Naon ubar ateul téh..?” dokter téh panasaran sigana mah. “Sumuhun kedah janten meri, kedah tumut sakapalay dunungan, mung ngendog mah kedah tetep produktif…, atuh nongton télévisi cekap ku bobodoran Sulé”.

Cadas Ngampar Januari 2010. (Dimuat dina Cupumanik No.80 Maret 2010)

Lisung Jeung Heler

LISUNG JEUNG HELER

Ku MAMAT SASMITA

Lisung teh hiji alat pikeun nutu pare, lisung sok dipapasangankeun jeung halu. Lisung dijieunna tina tangkal kai gede anu kuat, saterusna dipapras meh ampir jadi masagi tur manjang bari dijieun hiji rohang pikeun tempat pare ditutu, ditilik mah wangunna siga parahu. Ukuran panjangna teu tangtu aya nu nepika 2,5 m ti tungtung ka tungtung, aya oge nu ngan 1,5 m, lebarna kurang leuwih 40 cm. Sakapeung dina tungtungna sok aya paranti nyosoh beas, wanguna liang meh siga aseupan, atuh dina tungtung lisung sok dihias ku gegelungan.

Komentar Via Facebook