Sabtu, 18 September 2010

Masyarakat Sunda Pernah Melupakan Aksaranya

   Masyarakat Sunda Pernah Melupakan Aksaranya
   Konon, bangsa Cina telah mempunyai aksara sejak 3.000 atau 2.000 tahun
   sebelum Masehi. Sedangkan bangsa India telah memiliki aksara sejak
   kira-kira 800 tahun sebelum Masehi. Tetapi, percaya atau tidak, etnis
   Sunda malah pernah melupakan aksaranya sendiri lalu ironisnya malah
   mengadopsi aksara dari Jawa.
   

   BAHKAN sampai sekarang, yang disebut aksara Sunda adalah hanacaraka
   masih banyak yang mengakui. Mau tahu? Coba saja jalan-jalan di Kota
   Tasikmalaya, sebuah daerah yang selama ini dijadikan pusat pertumbuhan
   di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat. Setiap kita menemukan petunjuk
   nama jalan, di bawah aksara Latin selalu ditulis dengan aksara
   hanacaraka.
   
   Aksara tersebut selama dua ratus tahun lebih dianggap sebagai aksara
   Sunda. Selain untuk kepentingan administrasi lokal, aksara hanacaraka
   tersebut sampai tahun 1950-an masih diajarkan sebagai aksara Sunda di
   sekolah-sekolah menengah. "Karena cara menulisnya susah, sebagian dari
   tugas sekolah saya tulis dengan huruf Latin," Gubernur HR Nuriana
   mengungkapkan pengalaman masa kecilnya di depan lebih dari 600 peserta
   Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) di Bandung.
   
   Ketika guru meminta Nuriana muda membacakan hasil pekerjaannya, tentu
   saja ia bisa membacanya dengan lancar. Namun, rupanya hal itu membuat
   gurunya curiga. Ia kemudian memeriksa pekerjaan muridnya yang nakal.
   "Akhirnya, saya disetrap di depan kelas karena separuh dari tugas
   tersebut ditulis dengan huruf Latin," katanya terkekeh-kekeh.
   
   Yang dimaksud dan telanjur disebut aksara Sunda hanacaraka adalah
   aksara yang diambil dari aksara Jawa atau biasa disebut carakan.
   Tetapi, di lidah orang Sunda kemudian menjadi cacarakan.
   
   Di beberapa daerah, aksara tersebut sering dianggap mempunyai nilai
   sakral. Buktinya, di beberapa masyarakat adat masih ada yang
   menggunakannya untuk menentukan hari baik atau hari buruk untuk
   melaksanakan atau menyelenggarakan kegiatan mereka. Aksara tersebut
   kemudian dikonversi menurut angka-angka sesuai dengan urutan abjadnya.
   
                                    ***
                                      
   ADOPSI yang dilakukan masyarakat Sunda terhadap aksara Jawa bukan
   berarti sebelumnya mereka tidak memiliki kecakapan menulis. Jauh
   sebelum itu, Kepala Museum Sri Baduga Jawa Barat Tien Wartini
   mengungkapkan, tradisi tulis pada masyarakat Sunda telah berlangsung
   dalam rentang waktu yang amat panjang.
   
   Bahkan sebelum mengenal aksara, masyarakat Sunda telah mengenal
   simbol-simbol yang digoreskan pada batu, seperti yang ditemukan di
   Kampung Kuta, Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
   Hingga kini, goresan berupa simbol tersebut masih digunakan oleh
   masyarakat Badui pada kolenjer, yakni alat perhitungan waktu untuk
   pranatamangsa atau kalender pertanian dan waroge, yakni alat untuk
   mengusir roh jahat ketika nukuh yang merupakan salah satu rangkaian
   upacara dalam proses menanam padi.
   
   Akan tetapi, kecakapan menulis dalam arti menggunakan aksara, sudah
   dikenal sejak abad ke-5 Masehi, bersamaan dengan masuknya pengaruh
   Hindu di Jawa Barat yang kemudian memperkenalkan aksara Pallawa. Di
   Jawa Barat ditemukan sebanyak 29 prasasti dan 25 prasasti di antaranya
   berasal dari masa Kerajaan Sunda.
   
   Empat prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara masing-masing
   Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Cidanghiang, dan
   Prasasti Tugu bisa membuktikan hal ini. Prasasti Kebon Kopi ditemukan
   di kebun kopi milik Jonathan Rig, dibuat sekitar 400 Masehi (H Kern
   1917).
   
   Sementara Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun,
   merupakan salah satu bukti paling terkenal tentang kehadiran Kerajaan
   Tarumanagara di Jawa Barat. Sedangkan Prasasti Cidanghiang yang
   ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang, sebuah sungai yang mengalir di
   Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, isinya
   merupakan pujian kepada Raja Purnawarman. Prasasti Tugu ditemukan di
   Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.
   
   Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh
   Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada
   tahun ke-22 masa pemerintahannya.
   
   Selain aksara Pallawa yang menjadi cikal bakal aksara-aksara daerah di
   Nusantara, masyarakat juga mengenal aksara lainnya, yaitu aksara tipe
   Pranagari yang berasal dari India utara. Di Jawa Barat, aksara tipe
   ini dapat dibuktikan melalui teks-teks naskah yang berlatar belakang
   Buddhis. Misalnya Kunjakarna, Serat Catur Bumi, Serat Dewa Buddha, dan
   lainnya.
   
   Tinggalan yang masih bisa kita saksikan saat ini yang berkaitan dengan
   agama Buddha adalah Kabuyutan Ciburuy di Kecamatan Bayongbong,
   Kabupaten Garut. Di sana masih tersimpan naskah-naskah dari lontar
   maupun nipah serta alat-alat untuk membuatnya, berupa peso pagot dan
   gunting untuk memotong daun.
   
                                    ***
                                      
   BUKTI-bukti kreativitas tradisi tulis pada masyarakat Sunda itu bisa
   disaksikan pada pameran di Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat yang
   diselenggarakan bersamaan dengan Konferensi Internasional Budaya Sunda
   (KIBS) di Bandung, 25 Agustus-6 September mendatang. Dalam pameran
   tersebut, selain ditampilkan aksara Pallawa, juga ditampilkan aksara
   Sunda kuna dan Jawa kuna.
   
   Aksara Sunda kuna pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe
   Pallawa Lanjut yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa
   ciri yang masih melekat dari pengaruh tipe aksara prasasti-prasasti
   zaman Tarumanagara, sebelum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya
   sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.
   
   Penggunaan aksara Sunda kuna dalam bentuk paling awal antara lain
   dijumpai pada prasasti-prsasasti yang terdapat di Astanagede,
   Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dan Prasasti Kebantenan yang
   dijumpai di Kabupaten Bekasi. Perkembangan aksara Sunda kuna yang
   dinilai telah mencapai tahap modifikasi yang lebih mantap ditemukan
   dalam naskah-naskah lontar abad ke-16.
   
   Kenyataan ini sekaligus memperlihatkan kreativitas masyarakat Sunda
   dalam kegiatan menulis. Penggunaan aksara tersebut dinilai cukup lama
   karena sampai pertengahan abad ke-18 masih digunakan dalam menulis
   naskah Waruga Guru.
   
                                    ***
                                      
   SELAIN aksara Jawa kuna sebagaimana dijumpai pada Prasasti Cibadak
   atau Sanghyang Tapak dan Prasasti Huludayeuh dan Batutulis, dengan
   masuknya Islam, maka masyarakat Sunda mulai mengenal aksara Arab dan
   aksara Arab Pegon yang biasa digunakan untuk teks berbahasa Sunda atau
   Jawa.
   
   Dalam naskah-naskah Sunda, aksara Pegon memakai tanda vokalisasi. Jika
   ada naskah Sunda yang beraksara Pegon atau aksara Arab tanpa
   vokalisasi, aksara itu disebut aksara Gundil atau aksara Arab Gundul.
   
   Masyarakat Sunda makin melupakan aksara yang diciptakan nenek
   moyangnya sendiri dengan digunakannya aksara Cacarakan. Aksara yang
   diadopsi dari aksara Jawa modern yang biasa disebut carakan itu oleh
   Coolsma (1904) disebut aksara Sunda-Jawa.
   
   Model aksara tersebut pada mulanya diusahakan oleh Grashuis pada tahun
   1860 yang membuat pedoman menuliskan bahasa Sunda dengan aksara
   carakan dalam bukunya Handleiding voor het Aanleren van het
   Soendaneesch Letterschrift. Dengan demikian, sejak itu yang disebut
   aksara Sunda tidak lain adalah dari model aksara Carakan Jawa yang
   terdiri dari 18 buah aksara ngalagena karena dalam tatafenom bahasa
   Sunda tidak dibedakan antara lambang bunyi da dengan dha dan ta dengan
   tha.
   
   Tahun 1927, R Djajadiredja menyusun ejaan bahasa Sunda dengan aksara
   Cacarakan yang kemudian diikuti dengan buku pedoman khusus untuk
   Sekolah Rendah (SR) yang disusun Soeria Di Radja dengan judul
   Tjatjarakan dan dicetak di Groningen-Batavia: JB Wolters
   Uitgeversmaatschappij NV tahun 1930 lalu disusul cetakan kedua pada
   tahun 1948. Pada tahun 1935 terbit sebuah buku bacaan Langensari karya
   Rd Rangga Sastraatmadja, Soeria Di Radja dan Raden Kanduruwan
   Soerapoetra.
   
   Masyarakat Sunda memasuki babak baru dengan dikenalnya aksara Latin
   yang masuk bersamaan dengan kehadiran bangsa Belanda dan bangsa-bangsa
   Eropa lainnya pada abad ke-16. Sekitar satu abad kemudian, aksara
   Latin mulai digunakan dengan aksara Arab Gundul dan aksara Cacarakan
   sebagaimana terdapat dalam Surat Keputusan Kompeni dan para penguasa
   di Cirebon pada tanggal 3 November 1705 dan 9 Februari 1706.
   
   Aksara Sunda kuna yang terlupakan selama lebih dari sepuluh abad,
   barulah memperoleh pengukuhan sebagai warisan nenek moyang masyarakat
   Sunda pada pertengahan tahun 1999 setelah sebelumnya melewati dua kali
   diskusi panjang pada tahun 1997.
   
   Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah No 6 Tahun 1996 tentang
   Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara
   Sunda antara lain disebutkan, aksara Sunda adalah sistem ortografi
   hasil kreasi masyarakat Jawa Barat yang meliputi aksara dan sistem
   pengaksaraannya untuk menuliskan bahasa Sunda. Sedangkan salah satu
   fungsinya antara lain sebagai lambang jati diri dan kebanggaan daerah.
   (Her Suganda)

Sumber: 
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/08/23/0045.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Via Facebook

Esbiwan Multimedia : Electronic Service, Perancangan FM Transmitter, Computer Maintenance, Warnet. Alamat : Blok Cicadas RT 09/20 Kel Dangdeur Subang. Telp. (0260) 413809, 08179267319