Senin, 09 Agustus 2010

Kabel Antena / Feedline

KABEL ANTENA/FEEDLINE

Saat sinyal stasiun radio meninggalkan pemancar FM, bentuknya sudah berbeda dari saat memasuki studio. Konten audionya sama (harapan kita), tetapi menjadi lebih kuat dan terangkai dengan sinyal radio. Sinyal radio ini dikirimkan melewati kabel. Disini masalahnya karena sinyal radio yang sedang bergerak melalui kabel cenderung untuk berdifusi ke ruangan sekitarnya kecuali ada sesuatu yang mencegahnya.

Kabel antena bertugas mengirim sinyal-sinyal radio tersebut dari pemancar ke antena. Untuk menjaga agar pengiriman tersebut tidak bocor sebelum mencapai antena maka kabel tersebut harus berupa kabel koaksial dengan selubung penghantar sekeliling penghantar inti, atau sepasang kawat paralel yang dipisahkan dengan jarak tertentu. Kabel koaksial umumnya lebig mahal dan mudah menghilangkan daya meskipun jaraknya tidak terlalu jauh. Secara teoritis, kabel ganda paralel akan kehilangan daya lebih sedikit dalam jarak yang sama dibanding dengan kabel koaksial. Tetapy dalam praktek, kalau ada bengkokan sedikit saja sudah bayak dalya yang hilang di sana disamping itu kalau terdapat benda logam disekitarnya (misalnya antenanya atau kerangka yang menyangga antena), maka benda logam tersebut akan berinteraksi dengan sinyalnya. Oleh karena itu sebagian besar pemancar radio menggunakan kabel koaksial.

Sabtu, 31 Juli 2010

Sejarah Manusia Sunda

Sejarah Manusia Sunda


Pada tahun 1998, suku Sunda berjumlah kurang lebih 33 juta jiwa, kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat dan sekitar 1 juta jiwa hidup di provinsi lain. Dari antara mereka, penduduk kota mencapai 34,51%, suatu jumlah yang cukup berarti yang dapat dijangkau dengan berbagai media. Kendatipun demikian, suku Sunda adalah salah satu kelompok orang yang paling kurang dikenal di dunia. Nama mereka sering dianggap sebagai orang Sudan di Afrika dan salah dieja dalam ensiklopedia.

Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga mengubahnya menjadi Sudanese (dalam bahasa Inggris). Sejarah singkat pra-abad 20 ini dimaksudkan untuk memperkenalkan orang Sunda di Jawa Barat kepada kita yang melayani di Indonesia. Pada abad ini, sejarah mereka telah terjalin melalui bangkitnya nasionalisme Indonesia yang akhirnya menjadi Indonesia modern.

Jumat, 28 Mei 2010

Biografi Asep Sunandar Sunarya

ASEP SUNANDAR SUNARYA

Jenis kesenian wayang golek memiliki fenomena tersendiri di dalam dunia kesenian. Keberadaannya masih terus dipertahankan agar tetap hidup sebagai salah satu khazanah Budaya Sunda, meskipun pementasannya dewasa ini sudah sangat langka dan terbatas pada tempat serta kesempatan tertentu saja. Bila mendengar nama Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya, maka kita akan langsung dapat mengingat Kesenian Wayang Golek yang merupakan salah satu warisan paling berharga untuk dilestarikan. Nilai-nilai luhung Seni dan Budaya Sunda.

Wayang Golek versi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya cenderung bergaya kontemporer. Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya dilahirkan pada tanggal 3 September 1955 merupakan putera ke-7 dari 13 bersaudara putera-puteri Ki Dalang legendaris Abah Sunarya dengan Ibu Cucun Jubaedah.

Abah Sunarya merupakan pemilik sekaligus pendiri Perkumpulan Seni Wayang Golek Giri Harja. Selain Asep Sunandar Sunarya, anak Abah Sunarya lainnya yang berprofesi sebagai dalang adalah Ade Kosasih Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, Ugan Sunagar Sunarya, Agus Muharam dan Imik Sunarya. Asep Sunandar Sunarya yang memiliki nama kecil Sukana dalam perilaku kesehariannya sejak duduk di bangku SD sudah menampakan sosok pribadi yang kreatif dan dinamis dalam bergaul dengan sesama teman-temannya.

Selesai mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1968, Asep melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa-masa itu konsentrasi belajarnya banyak terganggu oleh hobinya mendalami ilmu pedalangan sampai lulus SMP tahun 1971.

Tekadnya untuk segera bisa mendalang termotivasi oleh ayahnya Abah Sunarya dan kakaknya Ade Kosasih Sunarya serta pamannya Lili Adi Sunarya. Selain itu juga Asep Sunandar Sunarya menimba ilmu pedalangan dengan belajar pada dalang Cecep Supriadi, dalang kondang dari Karawang. Asep Sunandar Sunarya dengan cara bersungguh-sungguh mengikuti Penataran Dalang yang diselenggarakan RRI Bandung pada tahun 1972 dan tercatat sebagai Lulusan Terbaik.

Padepokan Giri Harja pada tahun 1987 diresmikan sebagai Pusat Belajar Seni Pedalangan oleh Menteri Penerangan RI yang pada saat itu dijabat Harmoko. Keberadaan Padepokan Giri Harja sangat berpengaruh terhadap prestasi, kreasi dan motivasi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya sebagai Dalang Wayang Golek Kontemporer.

Pengalaman serta prestasi yang telah diraihnya diantaranya sebagai Juara Dalang Pinilih I Jawa Barat pada Binojakrama Padalangan di Bandung tahun 1978 dan tahun 1982. Sedangkan pada tahun 1985 Asep terpilih menjadi Dalang Juara Umum tingkat Jawa Barat dan memboyong Bokor Kancana. Pengalaman Asep Sunandar Sunarya melakukan muhibah ke luar negeri tercatat pada tahun 1986 sebagai Duta Kesenian ke Amerika Serikat. Tahun 1993 Institut International De La Marionnete di Charleville Prancis meminta Asep Sunandar Sunarya sebagai Dosen Luar Biasa selama 2 bulan serta diberi gelar Profesor oleh Masyarakat Akademis Prancis. Terakhir pada tahun 1994 Asep melakukan pentas keliling negara-negara di kawasan Eropa.

Kehadiran Tokoh Dalang sekaliber Asep Sunandar Sunarya telah memberikan kontribusi bagi seni pedalangan khususnya Wayang Golek sebagai warisan seni dan budaya milik masyarakat Jawa Barat.

Konsep serta kreativitas pertunjukan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya telah memberikan warna dan gaya tersendiri.Gaya pertunjukkan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya merupakan nuansa baru yang muncul di lingkungan Dinasti Sunarya. Hal yang paling menarik dan meruapakan ciri khas Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya ini adalah kepiawaiannya dalam mengolah gerak atau sabetan wayang dengan tampilan humor atau banyolan yang sentimentil, luwes dan segar.

Mengenai pegangannya pada Pakem Wayang dikaitkan dengan kreasinya yang disebut orang kontemporer seperti pada pertunjukkan wayang ketika dipukul kepalanya dapat mengeluarkan darah atau perkelahian antara Si Cepot dengan lawannya sampai “Buta” atau ketika lawannya mengeluarkan “mie”, Kang Asep mengemukakan bahwa hal itu tidaklah keluar dari pakem. Hal ini hanyalah merupakan suatu upaya visualisasi dengan cara memvisualkan cerita dalang-dalang terdahulu.

* Sumber: Cahya Hedy, S.Sen, Asep Sunandar Sunarya Tokoh dan Kreator Pedalangan Sunda, STSI Bandung, 1999.

Mengenal Pandawa Lilima

Mengenal Pandawa Lima

Dalam rangka mengembangkan dan mengenalkan Seni Sastra Padalangan, kami mencoba menyebarluaskan Seni Sastra Padalangan ini yang diawali dengan memperkenalkan tokoh-tokoh Pandawa Lilima dan tokoh-tokoh lain dengan perangai dan karakter yang berbeda. Mari kita coba jelaskan satu per satu:

Prabu Pandu Dewanata

Raden Pandu Dewanata adalah putra Bagawan Abiyasa (Kresna Dipayana) dari Dewi Ambalika. Nama temannya adalah Destarata, nama saudara perempuannya adalah Raden Yamawidura. Pandu memiliki suasana hati yang baik, pejuang yang sangat berani dan kuat. Alhasil, ia diangkat menjadi raja Astina. Dua istri Pandu adalah Dewi Kunti Nalibrata dan Dewi Madrim.

Pandu Dewanata memiliki lima putra yang diberi nama Pandawa Lilima. Putra sulungnya bernama Samiaji biasa dipanggil Darmakusumah, yang kedua Bima atau Bratasena, yang ketiga Arjuna, yang keempat Nakula dan yang bungsu Sadewa. Ketiga putra Dewi Kunti adalah Samiaji, Bima dan Arjuna. Si kembar adalah Nakula dan Sadewa, putra Pandu dari Dewi Madrim. Pandu meninggal dengan sumpah Resi Kumindana. Sebelum meninggal, ia meninggalkan negeri Astina dan keluarganya menuju Destarata.

Dewi Kunti Nalibrata

Dewi Kunti Nalibrata adalah putra raja Kuntiboja dari Negeri Mandura. Dewi Kunti bernama Basudewa. Sebelum menikah Dewi Kunti hamil secara tidak wajar. Di sini Batara Surya yang berdosa mengeluarkan janin dari puting Dewi Kunti. Karena itulah bayinya adalah Karna yang berarti anak kecil. Selama menjadi permaisuri Pandu Dewanata, Dewi Kunti memiliki tiga putra. Yang sulung bernama Darma Kusumah, yang kedua bernama Bratasena, yang termuda bernama Arjuna. Putra lainnya adalah Karna dari Batara Surya.

Darmakusumah

Darmaksumah biasa disebut Puntadewa atau Kontea. Karena dia adalah putra sulung Pandu, dia diangkat menjadi raja Amarta. Saat berada di hutan (hutan) Amer, Kontea bertemu dengan raja Siluman, namanya Darmakusumah. Sejak saat itu, Kontea menggunakan julukan Darmakusumah. Alas Amer menjadi negara Amarta.

Darmakusumah beristrikan Dewi Drupadi, putra Prabu Drupada dari negeri Cempala Dirja. Mereka memiliki seorang putra bernama Raden Pancawala. Prabu Darmakususmah, raja Amarta, adalah rajanya. Dia sabar, percaya, adil, bijak dan mencintai rakyatnya. Selama dia berada di Marcapada, dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Ia juga memiliki azimat Jamus layang kalaimasadha.

Bratasena (Bima)

Bratasena sering disebut Bima, Werkudara, Sena atau Bilawa. Ketika dia lahir, dia masih terbungkus selimut. Soehna paket itu marah besar pada Gajah Sena. Dia kemudian dipanggil Sena. Perawakan Sena tinggi, dengan dada bidang, dan hidung besar.

Jenggot, janggut dan kumis rambosbos bewos dan rambut gimbal. Sifatnya jujur, dia tidak bohong, dia sekencang pancake. Dia berkata bahwa dia takut atau takut akan segalanya. Alhasil, ia dijadikan benteng Amarta. Bratasena memiliki tiga istri. Yang pertama disebut Dewi Badawangwati putra Jakatawan, yang kedua Dewi Nagagini putra Raden Antareja, dan yang terakhir Dewi Arimbi putra Raden gatotkaca.

Arjuna

Arjuna adalah putra tengah Pandu, namun sering disebut Pandawa Tengah. Dia adalah salah satu ksatria pemberani. Wajahnya putih dengan senyum di wajahnya. Karakternya adalah bisa duduk, tajam dan teratur, sopan santun, bahasa yang baik, sopan santun, menghormati orang tua, tunduk pada guru, takut pada Yang Maha Kuasa. Arjuna adalah prajurit yang sangat pemberani. Dikatakan bahwa manusia langit adalah manusia dunia.

Karakternya dipisahkan oleh istrinya dan dicintai oleh keluarganya. Numawi menjadi impian gadis itu, tangkapan Kania. Arjuna memiliki banyak istri. Namun yang sebenarnya hanya Dewi Subadra, putra Prabu Basudewa dari Mandura, dan Dewi Srikandi, putra Prabu Drupada dari negeri Cempala Dirja. Putra dari Dewi Subadra adalah Raden Abimanyu. Arjuna memegang jabatan sebagai Adipati di Madukara.

Nakula Sadewa

Nakula dan Sadewa adalah anak kembar Pandu Dewanata dari Dewi Madrim. Sejak saat itu, anak kembar tersebut diasingkan oleh ibu mereka. Akibatnya, kedua Pandawa dikandung oleh Dewi Kunti bersama Pandawa lainnya. Dalam kisah Pandawa yang menyamar di negeri Wirata, Nakula berganti nama menjadi Pinten, Sadewa menjadi Tangsen. Mereka adalah ksatria kembar yang belajar di bidang pertanian dan merawat hewan, untuk meningkatkan mata pencaharian dan kehidupannya.

Batara Kresna (Bangbang Narayana)

Bangbang Narayana adalah nama Krisna saat masih remaja. Ia adalah putra Prabu Basudewa, raja Mandura. Istrinya adalah Raden Kakasrana atau Prabu Baladewa dan dia memiliki seorang adik perempuan dari Dewi Badraini yang bernama Dewi Subadra atau Dewi Mayang Arum. Prabu Kresna adalah perwujudan Dewa Wisnu, tubuhnya berwarna gelap (hitam), karena itu ia sering disebut Batara Kresna. Ia menjadi Raja di negeri Dwarawati.

Prabu Kresna pandai berbicara, sangat berani. Ia memiliki senjata panah Cakra yang sakti, serta Azimat Kembang Wijayakusumah untuk menyembuhkan orang sakit atau yang meninggal sebelum waktunya. Saat Barata Yudha, Kresna menjadi juru taktik perang Pandawa. Semua musush dapat dikalahkan oleh para Pandawa melalui tipu muslihat Batara Kresna.

Raden Gatotkaca

Gatotkaca adalah putra Bima dari Dewi Arimbi, ratu Pringgandani. Istri Raden Gatotgaca adalah Dewi Pergiwa, anak Raden Arjuna, anak Bangbang Kaca. Ketika kabelnya lahir, tidak bisa diputus, bisa diputus dengan senjata Konta. Arjuna lah yang dapat mematahkannya. Dalam kisah Barata Yudha, Raden Gatotgaca membunuh banyak Korawa. Gatotkaca perlaya karya Konta milik Adipati Karna.

Semar Badranaya

Semar Badranaya adalah salah satu badega yang membela Pandawa. Semar sering disebut Lurah Semar Kudapawana. Mulanya saya terlambat menguning, kemudian Dewa yang memilih berperang, namanya Batara Ismaya atau Sang Hyang Munget, putra Sang Hyang Wenang.

Wujud Semar meniru jenis yang sekarang kita kenal karena membunuh saudaranya Sang Hiyang Rancasan bersama saudaranya yang bernama Sang Hyang Antaga karena memiliki azimat Jamus Layang Kalimasadha. Sedangkan Ki Lurah Semar melahirkan tiga putra, Cepot / Sastrajingga, Udel / Dawala, dan Gareng yang tingkahnya lucu. Ki Semar memiliki istri Dewi Sutiragen.

www.sundanet.com

Kamis, 27 Mei 2010

Sapi Ngencar

Sapi Ngencar


“Geura jung atuh rék digadag mah, lain kalah ka ngalulungkut!”
“Mangké heula, sidik aing téh baruruten kénéh. Abong biwir teu diwengku!”
“Kéjo geus haneut, deungeunna geus diasakan, rék naon deui?”
“Aéh-aéh, na ka salaki téh, mani poporongos kitu?”
“Kaluman wé nénjona. Hudang héés téh lain buru-buru ka tampian. Batur mah geus kamana boa!”
“Kakara ogé jam genep,”

Komentar Via Facebook